TRENMEDIA.BIZ.ID - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai subholding upstream PT Pertamina (Persero), tengah menggenjot aktivitas pengeboran secara agresif. Langkah ini diambil untuk memastikan produksi minyak dan gas bumi (migas) tetap terjaga, sekaligus memperkuat fondasi ketahanan energi nasional Indonesia.

Strategi PHE tidak hanya berhenti pada pemeliharaan lapangan yang sudah ada, namun juga mencakup upaya eksplorasi sumber daya baru. Selain itu, optimalisasi potensi gas bumi menjadi salah satu pilar penting dalam agenda mereka.

Wakil Direktur Utama PHE, Virano Nasution, menekankan krusialnya ketersediaan sumur pemboran sebagai elemen vital. "Upaya tersebut diperlukan untuk menahan penurunan produksi alami di lapangan-lapangan yang telah berproduksi lama sekaligus membuka potensi sumber daya baru, terutama di kawasan Indonesia Timur," ujarnya.

Virano menambahkan, "Energi di Indonesia bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup lebih dari 280 juta orang yang tersebar di 17.000 pulau," saat membuka SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 di Bali.

PHE melaporkan bahwa program pengeborannya saat ini mencapai laju tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Program ini meliputi pengeboran ratusan sumur pengembangan, pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan sumur (workover), serta kegiatan eksplorasi di berbagai wilayah kerja.

Kegiatan pengeboran tersebut dilakukan baik di darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore), mencakup area strategis seperti Blok Rokan, Sumatra Selatan, Kalimantan, hingga kawasan Indonesia Timur.

Menanggapi perubahan karakteristik sumur migas di Asia Pasifik, PHE mengidentifikasi adanya peningkatan kompleksitas. Sumur-sumur baru cenderung memiliki kondisi tekanan dan temperatur yang lebih tinggi, serta berlokasi di area yang lebih terpencil.

"Kondisi tersebut membuat kegiatan pengeboran membutuhkan dukungan teknologi yang lebih maju, armada rig, kru berpengalaman, riset akademis, serta regulasi yang mendukung investasi," jelas Virano.

Virano menyoroti bahwa kebutuhan ini menjadi bagian esensial dalam pengembangan industri hulu migas Indonesia. Sektor ini memerlukan pengembangan talenta dan transfer teknologi untuk mendukung berbagai tahapan, mulai dari eksplorasi hingga penerapan teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Carbon Capture and Storage (CCS).