- TRENMEDIA.BIZ.ID -
Pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto menginisiasi pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS). Rencana ini disambut antusias oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) sebagai langkah strategis untuk kedaulatan ekonomi nasional.
Pembentukan BMKS diumumkan Presiden Prabowo dalam Pidato Kenegaraan penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2027 di hadapan DPR RI pada Jumat, 14 Agustus 2026. Inisiatif ini bertujuan mengakhiri ketergantungan Indonesia pada referensi harga pasar luar negeri.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya Indonesia, sebagai produsen utama berbagai komoditas strategis, memiliki instrumen penentuan harga sendiri. Selama ini, harga komoditas vital seperti nikel, timah, tembaga, bauksit, dan emas masih banyak mengacu pada pasar internasional.
APNI mengklaim bahwa gagasan bursa komoditas nasional bukanlah hal baru bagi mereka. Sejak tahun 2023, asosiasi ini telah aktif mendorong pembentukan Indonesia Metal Exchange (IMEX). IMEX dirancang sebagai platform nasional untuk membentuk harga acuan komoditas strategis Indonesia.
Selama puluhan tahun, Indonesia telah memantapkan posisinya sebagai pemasok mineral dunia, khususnya nikel. Namun, dominasi produksi fisik belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kedaulatan dalam penentuan harga di pasar global.
Ketergantungan pada bursa internasional seperti London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) masih terasa kuat dalam hal referensi harga, likuiditas untuk kebutuhan hedging, dan data transaksi strategis. Hal ini membatasi kemampuan Indonesia dalam menentukan harga komoditasnya sendiri.
"Selama tiga tahun terakhir, APNI secara konsisten mendorong gagasan Indonesia Metal Exchange kepada pemerintah dan otoritas terkait," ujar Ketua Umum APNI Nanan Soekarna pada Selasa, 18 Agustus 2026. "Pengumuman Bapak Presiden hari ini adalah pengakuan negara terhadap urgensi yang telah kami sampaikan sejak 2023."
Nanan Soekarna menegaskan bahwa Indonesia seharusnya tidak terus-menerus berada dalam posisi sebagai price taker, terutama untuk komoditas dengan volume produksi yang sangat besar secara global.
