TRENMEDIA.BIZ.ID - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional terus menunjukkan geliatnya sebagai salah satu pilar perekonomian Indonesia. Sektor padat karya ini tidak hanya menyerap jutaan tenaga kerja, tetapi juga mencatatkan nilai ekspor yang signifikan.

Pada semester I Tahun 2026, sektor TPT berhasil membukukan nilai ekspor sebesar US$4,85 miliar. Angka ini mencerminkan kontribusi vital industri ini terhadap perekonomian nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi para pelakunya.

Industri tekstil dan pakaian jadi memegang peranan yang sangat strategis dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor ini tercatat mampu mempekerjakan lebih dari 3,8 juta orang di seluruh Indonesia.

"Industri tekstil dan pakaian jadi memiliki peran yang sangat strategis karena menyerap lebih dari 3,8 juta tenaga kerja. Meski beberapa perusahaan menghadapi tekanan, tetapi pada saat yang sama juga ada investasi baru dan ekspansi usaha. Ini menunjukkan bahwa sektor TPT masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menperin menekankan pentingnya penguatan fondasi industri seiring dengan perkembangan investasi dan pemulihan kesempatan kerja. Pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan guna mendukung sektor ini.

Kebijakan tersebut mencakup insentif investasi, program restrukturisasi, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), pembiayaan ekspor melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), penguatan kebijakan pengamanan perdagangan, serta percepatan implementasi Making Indonesia 4.0 dan penerapan Standar Industri Hijau.

Kinerja ekspor TPT sebesar US$4,85 miliar pada semester I Tahun 2026 menjadi bukti nyata signifikansi sektor ini bagi perekonomian Indonesia. Penyerapan tenaga kerja yang mencapai lebih dari 3,8 juta orang semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu sektor penyedia lapangan kerja terbesar.

Peningkatan kinerja industri ini memerlukan transformasi proses produksi yang berkelanjutan. Modernisasi mesin, pemanfaatan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, dan penerapan prinsip industri hijau menjadi kunci untuk memenuhi tuntutan pasar global yang semakin dinamis.

"Dunia saat ini tidak hanya membeli produknya, tetapi juga melihat bagaimana produk tersebut diproduksi. Maka perlu diingat, keberlanjutan bukan lagi menjadi beban, melainkan keunggulan dalam persaingan global," tutur Menperin Agus.