TRENMEDIA.BIZ.ID - Pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen (year-on-year) pada triwulan II tahun 2026 menjadi sorotan utama. Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak ketidakpastian global yang masih membayangi.

Namun, pertanyaan krusial yang perlu dijawab adalah apakah pertumbuhan tersebut sudah memadai untuk mendorong Indonesia keluar dari kategori negara berpendapatan menengah atau "middle-income trap".

Pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen cenderung hanya mampu menjaga stabilitas. Angka tersebut belum terbukti cukup untuk mewujudkan transisi menuju status negara maju.

Untuk mencapai kemajuan signifikan, Indonesia membutuhkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas. Faktor penentu utamanya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.

Berbagai kajian ekonomi telah menyimpulkan bahwa upaya keluar dari jebakan pendapatan menengah menuntut peningkatan produktivitas yang konsisten. Hal ini penting untuk menopang pertumbuhan potensial ekonomi di kisaran 6,5 hingga 7 persen dalam jangka panjang.

Selama ini, diskusi mengenai "middle-income trap" kerap kali didominasi oleh isu-isu seperti industrialisasi, peningkatan investasi, hilirisasi industri, serta menjaga stabilitas makroekonomi.

"Pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen hanya mampu menjaga stabilitas, tetapi belum cukup untuk melangkah menuju status negara maju," demikian analisis yang disampaikan.

Pihak terkait menekankan bahwa Indonesia memerlukan pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih berkualitas. Hal ini harus didukung oleh sumber daya manusia yang unggul agar dapat bersaing di kancah global.

"Untuk keluar dari middle-income trap, Indonesia memerlukan peningkatan produktivitas yang konsisten agar mampu menopang pertumbuhan potensial di kisaran 6,5–7 persen dalam jangka panjang," tegas para pengamat ekonomi.