TRENMEDIA.BIZ.ID - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui anak usahanya, NeutraDC, tengah melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur data center. Langkah strategis ini dilakukan sebagai upaya transformasi perusahaan menjadi penyedia infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang kompetitif.

Dikutip dari Investasi, NeutraDC saat ini telah mengoperasikan kapasitas 3,5 MW. Selain itu, perusahaan sedang menyelesaikan pembangunan fasilitas sebesar 18 MW yang telah dikontrak oleh pelanggan, namun masih menunggu proses penyesuaian tenant.

Pengembangan tidak hanya terpusat di Cikarang, tetapi juga merambah ke wilayah Batam. Di sana, NeutraDC membangun hyperscale data center berkapasitas 18 MW yang dijadwalkan beroperasi pada 2026 dan telah mendapatkan penyewa utama.

Fasilitas internasional juga menjadi pilar penting bagi perusahaan. Saat ini, NeutraDC telah mengoperasikan fasilitas data center di Singapura dengan kapasitas penuh sebesar 17,4 MW.

"Keberadaan fasilitas di Singapura memberikan kontribusi pendapatan berulang dalam mata uang dolar AS yang menjadi lindung nilai alami terhadap risiko pelemahan rupiah," ujar Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi.

Mengenai potensi masa depan perusahaan, Muhammad Wafi menambahkan, "Total pipeline NeutraDC yang mencapai sekitar 57 MW berpotensi memberikan kontribusi pendapatan yang semakin berarti bagi kinerja konsolidasi TLKM apabila seluruh kapasitasnya terserap. Kondisi ini memperkuat tesis transformasi Telkom dari legacy telco menjadi AI infrastructure player," ujar Muhammad Wafi.

Terkait dukungan ekspansi, Muhammad Wafi mengungkapkan, "Ekspansi data center ini didukung oleh beberapa katalis positif, termasuk masuknya investor strategis dengan valuasi sekitar US$ 1,5 miliar yang dapat membuka nilai bagi perusahaan," ujar Muhammad Wafi.

Selain itu, Muhammad Wafi memberikan pandangannya mengenai fokus bisnis Telkom, "Divestasi aset non-inti dapat memperkuat fokus TLKM pada bisnis infrastruktur digital. Kepemilikan spektrum Telkomsel sebesar 37,2% juga diperkirakan meningkatkan kualitas jaringan dan memperkuat layanan B2B," ujar Muhammad Wafi.

Di sisi lain, terdapat tantangan regulasi terkait putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 273/PUU-XXIII/2025 mengenai aturan kuota internet. Namun, analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, menilai dampaknya terhadap laba Telkom cukup terbatas.