TRENMEDIA.BIZ.ID - Proyek pengembangan Lapangan Gas Abadi Masela akhirnya memasuki tahap konstruksi setelah penandatanganan kontrak kerja sama pertama kali pada tahun 1998. Groundbreaking resmi dilakukan pada 16 Juli 2026, menandai dimulainya pembangunan yang diproyeksikan menghasilkan 1,75 BSCFD gas bruto.
Pengembangan lapangan gas di Maluku ini memiliki peran strategis dalam memperkuat pasokan energi nasional. Selain itu, proyek ini juga diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi yang signifikan di wilayah Indonesia Timur.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai bahwa keberlanjutan pengembangan Lapangan Abadi Masela memberikan sinyal positif. "Keberlanjutan pengembangan Lapangan Abadi Masela memberikan sinyal positif bagi ketahanan energi dan neraca gas nasional dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya.
"Total cadangan gas Lapangan Abadi Masela mencapai sekitar 18,54 TSCF, jumlah tersebut setara dengan 53,30% dari total cadangan terbukti gas nasional pada 2025," kata Komaidi. Hal ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh lapangan gas tersebut.
Dari sisi produksi, gas Masela diproyeksikan dapat menyumbang sekitar 34% dari produksi gas nasional saat ini. Skala produksi yang besar ini menegaskan peran krusial lapangan gas di Maluku tersebut terhadap pasokan gas nasional.
Dari sisi ekonomi, pengembangan Lapangan Abadi Masela membawa nilai investasi yang sangat besar. Berdasarkan kajian ReforMiner, investasi proyek ini berpotensi menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional hingga sekitar Rp 2.363 triliun.
Kementerian ESDM mencatat bahwa total biaya pengembangan Lapangan Abadi Masela sepanjang umur proyek diperkirakan mencapai US$ 34,754 miliar atau sekitar Rp 590 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.000 per dolar AS. Angka ini mencakup investasi di luar biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya.
Biaya tersebut meliputi sunk cost sebesar US$ 20,946 miliar, biaya operasi sekitar US$ 12,978 miliar, dan biaya abandonment and site restoration (ASR) sebesar US$ 830 juta. ASR adalah biaya yang disiapkan untuk penutupan fasilitas dan pemulihan lokasi setelah proyek berakhir.
"Kebutuhan investasi Masela setara sekitar 2,3 kali realisasi investasi hulu migas nasional pada 2025 yang mencapai US$15,42 miliar," demikian kutipan dari ReforMiner. Ini menunjukkan skala investasi yang masif untuk proyek ini.
