TRENMEDIA.BIZ.ID - Harga emas global terpantau stabil pada Selasa, 11 Agustus 2026, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Stabilitas ini terjadi saat para investor global menahan napas menanti rilis data inflasi Amerika Serikat.

Investor secara cermat mencermati data inflasi yang akan dirilis guna mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Perhatian pasar kini semakin terfokus pada kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS pada bulan September.

Harga emas berjangka AS tercatat mengalami penurunan tipis 0,4% menjadi US$ 4.369,57 per ons. Namun, harga ini masih berada di atas level penutupan sebelumnya, setelah sempat menyentuh puncak di US$ 4.434,84 per ons, level tertinggi sejak 5 Juni 2026.

Sementara itu, harga emas spot menunjukkan pergerakan positif dengan kenaikan 0,2% menjadi US$ 4.430,20 per ons. Pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap aset lindung nilai.

"Data inflasi yang akan datang akan memengaruhi prospek suku bunga AS. Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat membenarkan kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed berikutnya dan, sebagai hasilnya, akan memberikan tekanan lebih lanjut ke bawah pada harga emas," ujar ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain.

Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data harga konsumen Amerika Serikat atau Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit pada Rabu, 12 Agustus 2026. Menyusul kemudian, data harga produsen atau Producer Price Index (PPI) akan dirilis pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Perhatian pasar juga tertuju pada probabilitas kenaikan suku bunga The Fed di bulan September. Berdasarkan alat CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai hampir 50%, meningkat dari angka 44% pada hari Senin.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menyampaikan pandangannya mengenai waktu yang tepat untuk memulai penyesuaian suku bunga. Ia melihat adanya momentum yang tepat untuk menaikkan suku bunga secara bertahap.

"Langkah tersebut dinilai dapat menghindarkan bank sentral dari kebutuhan menaikkan suku bunga secara lebih tajam pada masa mendatang," papar Beth Hammack.