TRENMEDIA.BIZ.ID - Dunia teknologi komunikasi baru saja mencatatkan tonggak sejarah baru yang signifikan. Jepang secara resmi berhasil memecahkan rekor kecepatan transmisi data dunia dengan mencapai angka fantastis 1.000 Terabit per detik (Tbps).
Pencapaian luar biasa ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat infrastruktur digital global. Dikutip dari Detik iNET, keberhasilan ini menjadi bukti nyata pesatnya perkembangan teknologi transmisi data yang kini semakin efisien.
"Jepang kini memegang rekor kecepatan internet tercepat di dunia yang mencapai 1.000 Terabit per detik (Tbps)," ujar Fitria Kusumawati, S.K.M., M.Kes.
Rekor spektakuler ini dicatatkan pada Juli 2025 dengan memanfaatkan infrastruktur serat optik standar yang telah tersedia secara komersial. Teknologi ini mampu mengirimkan data sebesar 125.000 gigabyte per detik dengan jangkauan jarak mencapai 1.802 kilometer.
Pencapaian ini sekaligus menggandakan rekor sebelumnya yang tercatat pada Maret 2024 sebesar 402 Tbps. Hal ini menunjukkan konsistensi Negeri Sakura dalam mendominasi riset dan pengembangan teknologi transmisi data kecepatan tinggi.
Jepang sebelumnya juga pernah mencatatkan rekor impresif sebesar 319 Tbps pada tahun 2021. Dominasi ini mempertegas posisi Jepang sebagai pemimpin dalam inovasi konektivitas digital di tingkat internasional.
Sebelum Jepang mendominasi, rekor kecepatan transmisi data tertinggi sempat dipegang oleh tim peneliti dari University College of London. Pada tahun 2020, lembaga tersebut berhasil mencatatkan angka kecepatan transmisi data hingga 178 Tbps.
Meskipun Jepang unggul dalam kecepatan transmisi data, peta persebaran kecepatan internet harian tetap beragam di seluruh dunia. Saat ini, Singapura menempati posisi puncak sebagai negara dengan rata-rata kecepatan unduh WiFi tertinggi bagi pengguna harian.
Di sisi lain, terdapat tantangan nyata terkait kesenjangan akses digital yang masih terjadi di beberapa wilayah. Masih ada kawasan tertentu yang tercatat memiliki rata-rata koneksi internet paling lambat di dunia dibandingkan standar global saat ini.