TRENMEDIA.BIZ.ID - Pergerakan industri ponsel pintar dunia menunjukkan dinamika menarik sepanjang kuartal II-2026. Meskipun volume pengiriman unit secara keseluruhan mengalami penurunan, nilai pendapatan pasar global justru berhasil mencatatkan rekor baru hingga menembus angka US$ 109 miliar.
Dikutip dari Investortrust.id pada Kamis (6/8/2026), pencapaian fantastis tersebut menandai kenaikan sebesar 7 persen secara tahunan. Lonjakan ini utamanya didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) yang mencapai US$ 400, seiring makin tingginya minat konsumen terhadap perangkat kelas premium.
Fenomena Kenaikan harga jual rata-rata yang naik 17 persen ini dipicu oleh melonjaknya harga komponen mendasar di tingkat manufaktur. Selain itu, para produsen ponsel pintar secara bertahap mengalihkan fokus strategi bisnis mereka menuju perangkat dengan spesifikasi tinggi dan kapasitas penyimpanan lebih besar.
"Industri smartphone saat ini telah resmi memasuki fase pertumbuhan baru, di mana nilai transaksi dari perangkat premium dan kenaikan harga menjadi penopang utama menggantikan volume penjualan," kata Shilpi Jain.
Dalam lanskap persaingan global ini, Apple berhasil mengukuhkan posisinya sebagai produsen dengan pertumbuhan pendapatan paling dominan. Perusahaan teknologi tersebut sukses menguasai 49 persen pangsa pendapatan global setelah mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 22 persen secara tahunan.
Kinerja impresif Apple didukung oleh peningkatan volume pengiriman unit iPhone sebesar 13 persen serta kenaikan ASP sebesar 8 persen. Tingginya antusiasme pasar terhadap jajaran iPhone 17, khususnya varian iPhone 17 Pro Max, menjadi motor utama penggerak pendapatan perusahaan.
Sementara itu, Samsung menyusul di posisi kedua dengan mengamankan pangsa pendapatan sebesar 16 persen. Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini membukukan kenaikan pendapatan dan pengiriman masing-masing sebesar 9 persen, yang disokong penjualan Galaxy A Series serta momentum lanjutan Galaxy S26 Series.
Berbeda dengan dua pemain teratas, Xiaomi justru menghadapi tantangan dengan penurunan pengiriman unit hingga 26 persen. Kondisi senada juga dialami oleh OPPO dan vivo yang mengalami koreksi pendapatan masing-masing 10 persen dan 11 persen akibat melemahnya permintaan pada segmen menengah ke bawah.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, tekanan pada biaya komponen utama seperti memori diperkirakan masih akan membayangi para produsen. Situasi ini diproyeksikan membuat vendor terus menambah porsi ponsel premium untuk menjaga profitabilitas di tengah ketatnya pasar global.
