- TRENMEDIA.BIZ.ID -
Kinerja positif sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sepanjang paruh pertama tahun 2026 menjadi sorotan utama, menunjukkan hasil konkret dari program konsolidasi dan transformasi yang dijalankan oleh Danantara sejak awal pembentukannya. Lonjakan laba bersih yang signifikan terlihat di hampir seluruh sektor strategis BUMN.
Hal ini sejalan dengan pemantauan kinerja BUMN yang dilakukan oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Program penataan dan penguatan BUMN melalui Danantara diapresiasi sebagai langkah strategis yang mulai membuahkan hasil nyata.
Managing Partner BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, menggarisbawahi bahwa BUMN blue chips tetap menjadi motor penggerak pendapatan dan profit BUMN secara keseluruhan. "Menurut saya kinerja solid masih ditunjukan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN," ujar Toto.
Ia menambahkan bahwa sektor perbankan melalui Himbara, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telekomunikasi, serta Pertamina menunjukkan stabilitas dan pertumbuhan yang patut diapresiasi. "Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," lanjut Toto.
Menurut Toto, potensi peningkatan kinerja BUMN di bawah Danantara masih sangat besar. Hal ini didukung oleh langkah streamlining atau efisiensi jumlah perusahaan negara yang diharapkan dapat berjalan lebih efektif. "Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," tuturnya.
Dikutip dari investortrust.id, PT Timah mencatat pertumbuhan laba paling dramatis, membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun. Angka ini melonjak 804,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 300 miliar, menandakan kebangkitan perusahaan setelah transformasi.
Sektor lain yang turut mencatat kinerja gemilang adalah PT Pupuk Indonesia, dengan laba bersih Rp 8,51 triliun, tumbuh 253% dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 2,41 triliun. Di sektor semen, PT Semen Indonesia mencatat kenaikan laba 196,5%, dari Rp 65,24 miliar menjadi Rp 193,46 miliar.
PT Agrinas Palma Nusantara juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 150%, dengan laba mencapai Rp 890 miliar. Kinerja ini mengonfirmasi keberhasilan konsolidasi sektor perkebunan strategis yang kini berada di bawah pengelolaan BUMN.
