TRENMEDIA.BIZ.ID - PT PLN (Persero) menunjukkan kesiapannya untuk mempercepat pengembangan potensi energi panas bumi (geotermal) di Indonesia. Perusahaan listrik negara ini menargetkan peningkatan kapasitas terpasang energi panas bumi dari 2,8 gigawatt (GW) saat ini menjadi 7,9 GW pada tahun 2033.

Target ambisius ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan upaya pemerintah dalam mencapai bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi PLN untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026), menekankan komitmen pemerintah terhadap terobosan energi bersih. "Bapak Presiden Prabowo memerintahkan untuk segera mencari terobosan-terobosan alternatif dalam rangka mendorong kedaulatan energi kita. Tidak ada cara lain selain melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain. Harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator," ujar Bahlil.

Ketua Umum Asosiasi Panasbumi Indonesia (API), Julfi Hadi, menyoroti pentingnya momentum peringatan satu abad eksplorasi panas bumi Indonesia. Ia mendukung penuh target menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam energi geotermal.

"Indonesia mempunyai local resources, mempunyai indigenous resources, yaitu panas bumi yang terbesar di dunia. Energi panas bumi mempunyai karakteristik spesial bisa menjadi base load yang andal. Satu-satunya base load renewable yang ada pada saat ini juga terbarukan, bersih dan terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Kunci mutlak menuju (Visi Panas Bumi) 30.1 adalah kolaborasi," kata Julfi.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan kesiapan PLN untuk mendukung kebijakan pengembangan energi terbarukan nasional, khususnya panas bumi yang memiliki potensi hingga 23,2 GW. "Indonesia memiliki peluang emas untuk membawa kekayaan panas bumi menjadi pemimpin energi dunia. Sesuai arahan Pemerintah melalui RUPTL 2025-2034, dari kapasitas 2,8 GW saat ini, ke depan kami akan mendorong penambahan kapasitas sebesar 5,1 GW atau melompat menjadi total 7,9 GW pada 2033 sekaligus berpotensi menjadi yang terbesar di dunia,” tegas Darmawan.

Darmawan menjelaskan bahwa RUPTL 2025-2034 merencanakan penambahan 110 proyek panas bumi. Dari jumlah tersebut, PLN akan mengembangkan 25 unit dengan total kapasitas 0,6 GW, sementara 85 unit lainnya akan dikembangkan oleh Independent Power Producer (IPP) sebesar 4,5 GW.

Untuk mempercepat pencapaian target, PLN membuka peluang kolaborasi melalui skema Geothermal Exploration & Energy Conversion Agreement (GEECA) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PLN dan Steam Sales & Energy Conversion Agreement (SECA) untuk WKP non-PLN. Total penambahan kapasitas panas bumi diproyeksikan mencapai 3,1 GW dari 79 proyek (45 GEECA dan 34 SECA).

"PLN membuka kolaborasi seluas-luasnya bagi para mitra melalui skema GEECA dan SECA. Lewat kolaborasi yang fairness ini, diharapkan dapat mengakselerasi pengembangan panas bumi, sebagai salah satu energi baru terbarukan domestik,” ucap Darmawan.