TRENMEDIA.BIZ.ID - Indeks saham S&P 500 berhasil mencatat rekor penutupan terbaru pada Jumat, 7 Agustus 2026. Peristiwa ini terjadi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perlambatan yang signifikan, melampaui ekspektasi para analis.

Data yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa sektor nonpertanian justru mengalami penyusutan sebanyak 23.000 pekerjaan pada Juli 2026. Angka ini jauh di bawah proyeksi ekonom yang tadinya memperkirakan adanya penambahan 80.000 lapangan kerja baru.

Perlambatan dalam penciptaan lapangan kerja ini secara langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Investor kini memangkas kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Menurut statistik CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026 kini tercatat di angka 44%. Penurunan data ketenagakerjaan dianggap sebagai sinyal bahwa The Fed mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga untuk mendinginkan ekonomi.

Pergerakan positif di bursa saham juga didukung oleh faktor lain, termasuk penurunan harga minyak dunia. Kemajuan dalam negosiasi damai terkait konflik Iran turut meredakan kekhawatiran akan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Selain itu, pelandaian imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga meningkatkan daya tarik aset berisiko bagi para investor. Hal ini mendorong aliran dana masuk ke pasar saham, memperkuat tren penguatan indeks.

"Anda mungkin harus menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan lapangan kerja, tetapi jika suku bunga diturunkan, Anda juga akan mendorong inflasi. Jadi, kondisi saat ini cukup sulit, tetapi pasar justru terus melaju karena kinerja laba perusahaan sangat kuat," ujar Tom Siomades, Chief Market Economist AE Wealth Management.

Lebih lanjut, Tom Siomades menyoroti respons pasar yang unik terhadap data ekonomi saat ini. "Pasar seharusnya bereaksi terhadap angka lapangan kerja yang lemah dan inflasi yang lebih tinggi serta kemungkinan ekonomi tumbuh lambat yang mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pasar mencetak rekor," kata Tom Siomades, Chief Market Economist AE Wealth Management.

Musim laporan keuangan perusahaan yang solid menjadi penopang utama optimisme investor. Berdasarkan data LSEG, sebanyak 85,1% dari 436 perusahaan di indeks S&P 500 berhasil melampaui estimasi laba analis.