TRENMEDIA.BIZ.ID - Pertanyaan fundamental mengenai siapa konsumen akhir dari sebuah produk seringkali terabaikan dalam perhitungan biaya tenaga kerja oleh para pengusaha. Padahal, konsumen tersebut adalah individu yang memperoleh pendapatan dari aktivitas ekonomi mereka, yang sebagian besar berasal dari pekerjaan.
Pendapatan yang diterima pekerja, baik dalam bentuk upah, gaji, maupun honor, menjadi sumber utama mereka untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan lain. Hal ini menciptakan sebuah paradoks menarik dalam sistem ekonomi.
Bagi sebuah perusahaan, upah pekerja dianggap sebagai biaya produksi yang perlu ditekan untuk memaksimalkan keuntungan. Namun, bagi perusahaan lain, upah tersebut justru menjadi daya beli yang menopang permintaan pasar.
"Perusahaan melihat pekerjanya sebagai biaya, sementara perusahaan lain melihat pekerja tersebut sebagai pelanggan," ungkap Guru Besar Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Sudarsono Soedomo, menjelaskan dualisme peran pekerja dalam perekonomian.
Situasi menjadi rumit ketika setiap perusahaan secara individual mengambil keputusan rasional untuk menekan biaya tenaga kerja. Jika tren ini diikuti oleh seluruh perusahaan secara bersamaan, pendapatan agregat rumah tangga pekerja dapat stagnan.
"Sesuatu yang masuk akal bagi satu perusahaan belum tentu menghasilkan akibat yang sama ketika dilakukan oleh keseluruhan," tulis Sudarsono Soedomo, mengilustrasikan fenomena fallacy of composition.
Dalam konteks ini, pemikiran John Maynard Keynes mengenai effective demand menjadi relevan. Keynes menekankan bahwa tingkat aktivitas ekonomi tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi, tetapi juga pada kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membeli.
"Pendapatan seseorang menjadi bagian dari pengeluaran orang lain. Upah yang dibayarkan perusahaan kepada pekerja tidak berhenti di rekening pekerja. Uang itu berputar," jelas Sudarsono Soedomo, menggarisbawahi sirkulasi pendapatan dalam ekonomi.
Konsekuensinya, persoalan upah tidak dapat dilihat semata-mata dari sisi biaya produksi, melainkan juga sebagai salah satu sumber fundamental permintaan pasar. Namun, solusi ideal bukanlah menaikkan upah setinggi-tingginya tanpa pertimbangan produktivitas.
