TRENMEDIA.BIZ.ID - PT Freeport Indonesia (PTFI) memprediksi kinerja operasional dan keuangan perusahaan masih akan menghadapi tekanan pada tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh penurunan produksi yang terjadi di tambang Grasberg Block Cave (GBC).
Meskipun demikian, perusahaan tetap optimistis mampu memenuhi kewajiban pembayaran dividen dan memberikan kontribusi finansial yang berarti bagi negara. Hal ini menunjukkan ketahanan perusahaan di tengah tantangan operasional.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyampaikan bahwa proyeksi produksi tahun ini diperkirakan hanya mencapai sekitar 65% dari kapasitas normal. Penurunan signifikan ini secara langsung berdampak pada pendapatan perusahaan.
"Ya tentu berkuranglah, kan kita produksinya berkurang. Kan produksi tahun ini cuma mencapai 65%, tentu saja berkurang, pendapatannya berkurang," ujar Tony Wenas saat ditemui wartawan di Jakarta.
Namun, Tony Wenas menegaskan bahwa penurunan produksi tidak akan menghentikan kontribusi PTFI kepada negara. Perseroan dipastikan masih memiliki kemampuan untuk membayarkan dividen dan memberikan penerimaan negara yang substansial.
"Tapi masih tetap bisa bayar dividen. Masih tetap bisa kontribusi kepada negara lumayan besar," katanya.
Terkait dengan operasional tambang GBC, Tony Wenas memastikan bahwa proses pemulihan dan pengembangan tambang berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. PTFI menargetkan produksi dari tambang tersebut dapat kembali mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027.
"Targetnya akhir 2027 mendekati 100%," tegas Tony Wenas.
Penurunan produksi PTFI ini turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja ekonomi di Provinsi Papua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontraksi sektor pertambangan dan penggalian di Papua memberikan tekanan pada pertumbuhan ekonomi daerah dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
