TRENMEDIA.BIZ.ID - Sepanjang Juli 2026, berbagai instrumen investasi menunjukkan pergerakan yang variatif di tengah dinamika geopolitik serta kebijakan moneter global. Dikutip dari Investasi, pasar kripto menjadi salah satu sektor yang mencatatkan pemulihan signifikan.
Bitcoin berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 9,42% menjadi US$ 63.824 per 31 Juli 2026, meskipun secara tahun berjalan masih mengalami koreksi 27,82%. Sementara itu, Ethereum melonjak 20,75% ke level US$ 1.888,35 dengan catatan koreksi tahunan sebesar 36,44%.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengungkapkan bahwa fenomena kenaikan harga aset digital ini dipicu oleh adanya technical rebound pasca tekanan jual yang cukup masif selama periode Mei hingga Juni. Menurutnya, para investor mulai kembali melakukan aksi beli karena harga dinilai lebih menarik.
"Kenaikan harga Bitcoin dan Ethereum sepanjang Juli 2026 dipengaruhi oleh kombinasi faktor makroekonomi, pemulihan sentimen pasar, serta masuknya kembali permintaan institusional setelah koreksi cukup dalam pada bulan sebelumnya," ujar Fyqieh.
Fyqieh menjelaskan bahwa sentimen positif pasar di awal bulan didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang melunak, sehingga memunculkan harapan bahwa inflasi akan segera mereda. Namun, kondisi pasar kembali berhati-hati setelah The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75% menjelang akhir Juli.
"Secara keseluruhan, arus dana ETF Bitcoin pada Juli masih tergolong lemah dibandingkan periode-periode sebelumnya," kata Fyqieh.
Lebih lanjut, Fyqieh menilai bahwa potensi kenaikan harga di masa depan masih sangat terbuka, meski pergerakannya tidak akan berjalan secara linear. Ia menegaskan bahwa stabilitas harga sangat bergantung pada arus dana institusional serta dinamika makroekonomi global.
"Kebijakan yang lebih ketat, kenaikan yield obligasi, atau memburuknya risiko geopolitik dapat mengurangi likuiditas dan menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan Ethereum," tambah Fyqieh.
Di sisi lain, sektor obligasi pemerintah turut dipengaruhi oleh pengetatan moneter domestik dan pelemahan nilai tukar rupiah. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mencatat bahwa kenaikan premi risiko dan tekanan harga minyak global menjadi faktor utama yang membayangi pasar obligasi.