TRENMEDIA.BIZ.ID - Harga emas global menunjukkan penguatan signifikan pada Senin, 10 Agustus 2026, bertahan di kisaran tertinggi dalam tujuh minggu terakhir. Momentum beli investor terdorong oleh antisipasi rilis data inflasi Amerika Serikat yang krusial.
Data inflasi tersebut dipandang sebagai petunjuk penting bagi pasar untuk memperkirakan langkah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) selanjutnya. Pergerakan harga emas spot terpantau naik 0,4% mencapai US$ 4.356,79 per ons, nyaris menyentuh rekor tertinggi tujuh minggu di US$ 4.371,63 per ons yang dicapai pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Kontrak berjangka emas AS pun turut mengalami kenaikan sebesar 0,4%, ditutup pada angka US$ 4.416 per ons. Penguatan ini terjadi pasca data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan nonpertanian di luar perkiraan.
"Momentum teknis saat ini cukup kuat untuk emas secara keseluruhan," ujar Bob Haberkorn, seorang analis strategi pasar senior di StoneX, dilansir Reuters.
Haberkorn menambahkan bahwa perdagangan berlangsung dengan kehati-hatian, di mana pembelian dari Tiongkok menjadi salah satu faktor penopang, sembari investor menanti laporan inflasi AS. Ia menilai kekhawatiran kehilangan momentum juga mendorong investor untuk kembali memburu emas sebelum harganya berpotensi menembus US$4.500 per ons.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan terbit pada Rabu, 12 Agustus 2026, diikuti oleh Producer Price Index (PPI) pada Kamis, 13 Agustus 2026. CPI mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dibayar konsumen, sementara PPI mengukur perubahan harga di tingkat produsen.
Para ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi konsumen AS pada Juli 2026 akan berada di angka 3,4% secara tahunan, mengalami penurunan dari 3,5% pada bulan Juni.
"Data CPI akan sangat penting. Inflasi mulai sedikit mereda, dengan pasar memperkirakan laporan yang tidak akan terlalu positif mengenai inflasi, dan akan menyebabkan harga emas bergerak mendatar hingga lebih tinggi dalam jangka pendek," ungkap Jim Wyckoff, seorang analis pasar dari American Gold Exchange.
Arah kebijakan suku bunga The Fed memiliki pengaruh langsung terhadap daya tarik emas sebagai aset investasi. Emas yang tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito, cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih rendah.
