TRENMEDIA.BIZ.ID - Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) secara tegas mendorong peningkatan partisipasi sektor swasta dalam mendanai pembangunan jalan tol di seluruh Indonesia. Langkah ini dianggap krusial mengingat proyeksi kebutuhan investasi industri jalan tol yang diperkirakan akan mencapai angka fantastis, yakni mendekati Rp 1.000 triliun.

Jaringan jalan tol yang telah beroperasi di tanah air saat ini membentang sepanjang 3.115,98 kilometer, terbagi dalam 76 ruas yang dikelola oleh 59 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Akumulasi nilai investasi untuk ruas-ruas yang telah beroperasi tersebut sudah mencapai Rp 668 triliun.

Jika ditambah dengan ruas-ruas yang masih dalam tahap konstruksi maupun persiapan, total investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan infrastruktur jalan tol nasional diproyeksikan akan menyentuh angka Rp 1.000 triliun. Angka ini menunjukkan skala kebutuhan pendanaan yang sangat besar.

Ketua Umum ATI sekaligus Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR), Rivan A Purwantono, menyatakan bahwa kapasitas pembiayaan yang dimiliki oleh pemerintah memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, diperlukan terobosan kebijakan serta skema pembiayaan inovatif yang mampu menarik minat dan mendorong partisipasi aktif dari pihak swasta.

"Jaringan jalan tol yang beroperasi di Indonesia saat ini telah mencapai sepanjang 3.115,98 km (76 ruas jalan tol) yang dikelola oleh 59 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), dengan akumulasi nilai investasi mencapai Rp 668 triliun untuk ruas beroperasi dan diproyeksikan mendekati Rp 1.000 triliun termasuk ruas dalam tahap konstruksi dan persiapan," demikian disampaikan Rivan A Purwantono dalam keterangan resminya.

Untuk membahas lebih mendalam mengenai model pembiayaan jalan tol yang lebih berkelanjutan, ATI akan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD). Acara ini bertajuk "Penyelarasan Ekosistem Infrastruktur Jalan Tol untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan" dan dijadwalkan pada Rabu (12/8/2026) di Jakarta.

FGD tersebut akan menjadi forum strategis untuk mengupas berbagai aspek penting, mulai dari penyelarasan kebijakan dan regulasi, penciptaan iklim investasi yang kondusif, hingga perumusan model pembiayaan yang lebih berkelanjutan dengan memperbesar porsi investasi dari swasta. Selain isu pembiayaan, peningkatan kualitas pelayanan jalan tol juga akan menjadi agenda pembahasan utama.

Plt Sekretaris Jenderal ATI, Kristianto, menekankan pentingnya keselarasan pandangan antara pemerintah dan para pelaku industri. Hal ini menjadi kunci utama dalam merumuskan skema pembiayaan dan regulasi jalan tol yang efektif.

"Sinergi dan keseimbangan kebijakan sangat penting bagi masa depan industri jalan tol nasional. Melalui pelaksanaan FGD ini, ATI berharap dapat menghimpun berbagai pemikiran kritis dan gagasan solutif lintas sektor yang akan kami rumuskan secara komprehensif ke dalam dokumen rekomendasi kebijakan (White Paper)," jelas Kristianto.