TRENMEDIA.BIZ.ID - Gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu petang, 16 Agustus 2026. Peristiwa alam ini menimbulkan dampak yang signifikan dan meluas di berbagai daerah yang terdampak langsung oleh guncangan tersebut.

Sebagai respons cepat terhadap bencana alam ini, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Maumere segera mengambil tindakan strategis. Mereka mengerahkan Kapal Negara Punthadewa untuk menjangkau wilayah-wilayah yang paling parah terdampak oleh gempa bumi.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menjelaskan bahwa keputusan untuk memprioritaskan jalur laut sangatlah krusial dalam operasi penyelamatan ini. Pemilihan rute laut ini didasari oleh kondisi lapangan yang sangat mengkhawatirkan.

"Sejumlah ruas jalan di jalur Trans Flores mengalami kerusakan parah akibat bencana longsor yang dipicu oleh gempa," terang Fathur Rahman, menekankan tantangan logistik yang dihadapi tim SAR.

Kerusakan infrastruktur jalan ini membuat mobilitas tim penyelamat menjadi sangat terbatas jika hanya mengandalkan jalur darat. Longsoran yang terjadi memutus akses vital bagi upaya pencarian dan pertolongan korban.

Oleh karena itu, penggunaan Kapal Negara Punthadewa menjadi solusi paling efektif untuk menembus area-area yang sulit dijangkau. Kapal ini memungkinkan tim SAR untuk membawa bantuan dan melakukan evakuasi dengan lebih efisien.

Hingga berita ini diturunkan, tercatat sebanyak 46 jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang Flores. Jumlah korban ini menunjukkan skala keparahan bencana yang terjadi.

Upaya penyelamatan dan penanggulangan dampak gempa masih terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk tim SAR Maumere yang mengoptimalkan penggunaan jalur laut di tengah keterbatasan akses darat.

Dikutip dari TIMESINDONESIA.MY.ID.