TRENMEDIA.BIZ.ID - Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa realisasi impor daging sapi hingga kini baru mencapai sekitar 40% dari kuota yang telah ditetapkan. Angka ini menunjukkan belum optimalnya pasokan daging sapi dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Pemerintah telah berupaya memastikan ketersediaan pasokan daging sapi nasional dengan menerbitkan kuota impor. Kuota tersebut terdiri dari 30.000 ton untuk sektor swasta dan 250.000 ton dialokasikan untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Meskipun kuota telah diberikan, pelaksanaan impor oleh para pelaku usaha masih menghadapi berbagai kendala. Hal ini menyebabkan capaian realisasi impor belum sesuai dengan target yang diharapkan oleh pemerintah.
"Realisasinya sekarang masih di bawah 50 persen, rata-rata sekitar 40 persen," ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (12/8).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah secara aktif mendorong para importir untuk segera mencari sumber pasokan baru di luar negeri. Fokus utamanya adalah menemukan pemasok yang menawarkan harga lebih kompetitif.
"Kami meminta para importir segera mencari sumber atau supplier di luar negeri dengan harga yang lebih baik, sehingga bisa menekan harga-harga yang ada di dalam negeri," jelasnya.
Salah satu kendala utama yang diidentifikasi oleh Kemendag adalah lonjakan biaya logistik dan transportasi. Kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor dominan yang turut mendongkrak ongkos pengiriman barang.
"Ini lebih karena biaya logistik dan transportasi. Harga minyak kan berdampak pada biaya logistik dan biaya transportasi kapal yang naik," imbuh Budi.
Menyikapi hal ini, importir diimbau untuk mempertimbangkan negara-negara pemasok yang memiliki jarak geografis lebih dekat. Strategi ini diharapkan dapat menekan biaya transportasi secara signifikan.
