TRENMEDIA.BIZ.ID - Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026 menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara kemudahan masyarakat mengakses layanan keuangan dengan tingkat pemahaman mereka terhadap produk dan jasa keuangan. Fenomena ini menjadi sorotan para ekonom yang khawatir dapat memunculkan permasalahan baru jika tidak ditangani secara serius.

Indeks literasi keuangan nasional tercatat berada di angka 69,57%, sementara indeks inklusi keuangan melonjak hingga 93,61%. Menurut ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, tingginya angka inklusi keuangan mengindikasikan bahwa masyarakat kini lebih mudah menjangkau berbagai layanan finansial, mulai dari transaksi sehari-hari, penerimaan bantuan sosial, hingga akses pembiayaan untuk pengembangan usaha.

"Ini menunjukkan akses terhadap layanan keuangan semakin luas," ujar Yusuf Rendy Manilet.

Namun, Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa kemudahan akses ini justru dapat menimbulkan persoalan jika tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengelola produk keuangan yang tersedia.

"Persoalan muncul ketika akses tersebut tidak diikuti kemampuan mengelola keuangan," ujar Yusuf Rendy Manilet kepada Katadata.

Ia memberikan contoh konkret terkait penggunaan layanan paylater dan pinjaman online. Ketika masyarakat memiliki kemudahan akses namun minim pemahaman mengenai bunga, biaya tambahan, risiko, serta kemampuan membayar, penggunaan layanan tersebut berisiko menjerumuskan rumah tangga pada masalah finansial.

Lebih lanjut, rendahnya tingkat literasi keuangan juga berpotensi membuat masyarakat lebih rentan terhadap penipuan digital dan praktik investasi ilegal. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya merugikan individu dan keluarga, tetapi juga dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan formal yang ada.

Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa peningkatan literasi keuangan cenderung berjalan lebih lambat dibandingkan inklusi keuangan karena perbedaan sifatnya. Membuka rekening atau mengunduh aplikasi layanan keuangan dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Sebaliknya, membangun pemahaman mendalam dan kebiasaan mengelola keuangan membutuhkan proses yang jauh lebih panjang dan berkelanjutan. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menganalisis risiko, menghitung kapasitas pembayaran utang, serta menanamkan disiplin dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran.