TRENMEDIA.BIZ.ID - Harga pangan dunia dilaporkan melonjak tajam pada Juli 2026, mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO), FAO Food Price Index tercatat di angka 131,1 poin pada Juli 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya, Juni, dan 1% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025.
Kenaikan indeks harga pangan global ini merupakan yang tertinggi sejak Januari 2023. Fenomena cuaca seperti El Nino dan dinamika geopolitik global menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga komoditas pangan secara signifikan.
Penyebab utama kenaikan indeks ini adalah lonjakan harga serealia. FAO Cereal Price Index mengalami peningkatan sebesar 3,4% secara bulanan dan 6,9% jika dibandingkan dengan Juli tahun lalu, menunjukkan tekanan besar pada ketersediaan biji-bijian.
"Harga gandum menjadi salah satu pendorong utama setelah melonjak 5,8% pada Juli," demikian catatan FAO, dikutip dari Reuters (7/11). Kenaikan ini dipengaruhi kekhawatiran terhadap gangguan arus ekspor melalui kawasan Laut Hitam, serta dampak gelombang panas terhadap hasil panen di sejumlah negara produsen utama.
Selain gandum, harga jagung dunia juga terpantau meningkat sebesar 3,6%. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap cuaca panas dan kering di beberapa wilayah Amerika Serikat, serta dampak kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Sementara itu, indeks harga beras dunia dilaporkan relatif stabil pada bulan Juli 2026, tidak mengalami lonjakan signifikan seperti komoditas serealia lainnya.
Pergerakan harga minyak nabati juga turut berkontribusi pada kenaikan harga pangan global. FAO Vegetable Oil Price Index dilaporkan meningkat 2% dibandingkan Juni, mencapai level tertinggi sejak Juni 2022.
"Harga minyak sawit di pasar internasional naik, ditopang oleh kuatnya permintaan dari sektor biodiesel Indonesia dan kenaikan harga minyak mentah," demikian laporan FAO, dikutip Selasa (11/8). Penguatan permintaan dari sektor biodiesel domestik turut memberikan tekanan ke pasar minyak nabati internasional.
