• TRENMEDIA.BIZ.ID - JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Lubricants menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga produk pelumas di pasar domestik. Perusahaan menegaskan belum memiliki rencana untuk menaikkan harga, meskipun tantangan dari dinamika geopolitik global terus membayangi potensi fluktuasi harga bahan baku.

Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor krusial yang memengaruhi industri pelumas. Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi, menjelaskan bahwa harga pelumas sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku, fluktuasi harga bahan baku itu sendiri, serta kondisi geopolitik global.

"Kalau di kami sendiri terakhir naik itu tanggal 2 Juli kemarin, sampai sekarang belum naik lagi. Kami belum merencanakan untuk naik," ujar Rika saat media visit ke PT Pertamina Lubricant Production Unit Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Rika menambahkan bahwa dinamika geopolitik global memiliki peran signifikan dalam memengaruhi keamanan pasokan (security of supply) serta volatilitas harga bahan baku pelumas. Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap isu-isu internasional menjadi prioritas perusahaan.

"Terakhir kenaikan harga pelumas tidak cuma merek Pertamina Lubricants, tapi secara nasional brand yang lain juga," jelas Rika.

Menariknya, tren penurunan harga minyak mentah (crude oil) belakangan ini memberikan angin segar bagi industri pelumas. Penurunan ini diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi produsen seperti Pertamina Lubricants untuk mempertahankan stabilitas harga produknya.

"Harapannya justru dengan harga crude yang mulai trennya turun, semoga kami juga serta harapannya bisa menyesuaikan," kata Rika.

Selain harga bahan baku, biaya logistik juga menjadi komponen penting dalam perhitungan harga jual pelumas. Perubahan kondisi global dapat menciptakan dampak berantai yang memengaruhi keseluruhan struktur biaya produksi hingga harga akhir yang diterima konsumen.

"Tentunya dengan ketersediaan atau security of supply dari bahan baku, itu bisa dipengaruhi juga dengan dinamika geopolitik, kemudian nanti dengan harga bahan baku itu sendiri, kemudian biaya logistik," papar Rika.