TRENMEDIA.BIZ.ID - Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menyatakan apresiasi atas masuknya investasi senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun dari Danantara Indonesia ke JBS Group. Namun, di balik sambutan hangat tersebut, muncul pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana investasi besar ini akan berkontribusi pada penguatan industri sapi dan daging di tanah air.

Sekretaris Jenderal DPP PPSKI, Robi Agustiar, melihat investasi ini sebagai sinyal positif bahwa industri sapi potong masih menjadi sektor yang menarik dan memiliki prospek cerah di mata pemerintah. Hal ini tercermin dari alokasi dana investasi yang cukup signifikan pada bidang tersebut.

"Artinya industri sapi potong atau industri protein ini masih positif dan menarik di mata pemerintah. Buktinya pemerintah menanamkan dananya yang cukup besar sebagai investasi di bidang ini," ujar Robi Agustiar.

Namun demikian, keputusan Danantara untuk berinvestasi pada JBS Group yang beroperasi di Australia dan Selandia Baru menimbulkan sejumlah pertanyaan. PPSKI berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai bagaimana investasi ini pada akhirnya akan memberikan manfaat nyata bagi industri sapi di Indonesia.

"Yang kami pertanyakan adalah kenapa investasinya di luar. Kenapa tidak melakukan investasinya di dalam negeri?" kata Robi Agustiar.

Investasi awal sebesar US$2,5 miliar oleh Danantara Investment Management (DIM) tersebut bertujuan untuk memperoleh 25% saham pada perusahaan patungan baru yang akan mengelola bisnis JBS di Australia dan Selandia Baru. Kemitraan ini digagas dengan tujuan mengembangkan ekosistem protein Indonesia serta memperkuat rantai pasok protein di kawasan Asia Tenggara.

Lebih lanjut, perusahaan patungan ini memiliki potensi untuk mendapatkan tambahan pembiayaan hingga US$2,5 miliar. Dana tambahan tersebut rencananya akan dialokasikan untuk keperluan akuisisi dan investasi baru, baik di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, maupun Selandia Baru.

Robi Agustiar menyampaikan harapannya agar sebagian dari dana investasi tersebut dapat disalurkan kembali ke Indonesia. Bentuknya bisa berupa pembelian perusahaan lokal atau peningkatan kapasitas teknologi dan sumber daya manusia di dalam negeri.

"Kami berharap JBS itu adalah perusahaan protein terbesar di dunia yang berkantor pusat di Brasil. Kalau boleh, sebagian dananya diinvestasikan balik ke Indonesia," tutur Robi Agustiar.