TRENMEDIA.BIZ.ID - Jupiler Pro League, kompetisi sepak bola kasta tertinggi di Belgia, akan memasuki musim 2026-2027 dengan perubahan fundamental yang signifikan. Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir, format kompetisi tidak akan lagi menyertakan fase play-off yang seringkali memicu kontroversi.
Perubahan ini akan kembali mengembalikan liga ke format kompetisi penuh yang diikuti oleh 18 klub, dengan total 34 pekan pertandingan yang mendebarkan. Laga pembuka musim ini akan mempertemukan juara bertahan Club Brugge dengan tim promosi KV Kortrijk, menandai awal dari era baru kompetisi.
Struktur liga ini mengadopsi kembali format yang terakhir kali digunakan pada musim 2008-2009. Empat tim teratas klasemen, ditambah dengan pemenang piala domestik, akan mendapatkan tiket otomatis untuk berlaga di kompetisi Eropa musim berikutnya. Sementara itu, dua tim yang menduduki peringkat terbawah, yaitu posisi ke-17 dan 18, akan langsung terdegradasi ke Challenger Pro League.
Tujuh aturan permainan baru telah diimplementasikan dengan tujuan utama untuk menekan durasi jeda pertandingan dan meningkatkan tempo permainan. Aturan-aturan ini diadopsi langsung dari regulasi yang telah teruji di Piala Dunia, memastikan aliran permainan yang lebih lancar dan dinamis.
Salah satu perubahan krusial terkait pergantian pemain adalah batas waktu maksimal sepuluh detik bagi pemain yang diganti untuk meninggalkan lapangan. "Pemain yang diganti kini hanya diberi waktu maksimal sepuluh detik untuk meninggalkan lapangan," demikian pernyataan resmi terkait aturan baru tersebut. Jika aturan ini dilanggar, pemain pengganti wajib menunggu satu menit di pinggir lapangan, memaksa timnya bermain dengan sepuluh orang sementara.
Untuk penanganan cedera, aturan baru mewajibkan pemain yang memanggil tim medis ke dalam lapangan untuk keluar dari area permainan selama satu menit. Namun, pengecualian diberikan apabila pemain tersebut menjadi korban pelanggaran yang berujung pada kartu kuning atau merah bagi pemain lawan.
Wasit akan memainkan peran yang lebih proaktif dalam menjaga tempo pertandingan, terutama saat lemparan ke dalam dan tendangan gawang. "Wasit kini juga memiliki kewenangan menghitung mundur lima detik secara terbuka saat lemparan ke dalam dan tendangan gawang dilakukan," jelas sumber berita tersebut. Keterlambatan dalam eksekusi lemparan ke dalam akan mengakibatkan peralihan hak lemparan kepada tim lawan.
Perubahan signifikan juga terjadi pada penerapan Video Assistant Referee (VAR). Fungsi VAR kini diperluas untuk mengoreksi keputusan terkait kartu. "VAR kini berhak membatalkan kartu merah akibat kartu kuning kedua yang tidak sah, serta mengoreksi kesalahan identitas penerima kartu kuning maupun merah," demikian penjelasan mengenai perluasan wewenang VAR.
Selain itu, VAR dapat mengintervensi keputusan terkait tendangan sudut menjadi tendangan gawang apabila terbukti pemain penyerang menjadi kontak terakhir bola. Namun, aturan ini tidak berlaku sebaliknya, di mana intervensi dari tendangan gawang menjadi tendangan sudut tidak dimungkinkan.
