TRENMEDIA.BIZ.ID - Industri teknologi global kini tengah menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan komponen memori. Samsung secara resmi memproyeksikan bahwa kondisi kelangkaan stok chip RAM akan terus berlanjut hingga tahun 2028 mendatang.
Dikutip dari Gadget, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini mengungkapkan bahwa puncak dari kelangkaan tersebut diperkirakan akan terjadi pada tahun 2027. Prediksi ini secara rinci tertuang dalam dokumen laporan keuangan kuartal kedua yang dirilis oleh pihak perusahaan.
Situasi ini dipicu oleh tingginya kebutuhan infrastruktur memori yang didorong oleh perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau AI. Fenomena tersebut membuat produsen harus segera mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan jangka panjang.
"Sejumlah laboratorium AI terkemuka telah membagikan proyeksi kebutuhan memori jangka menengah hingga panjang secara langsung kepada kami guna mengamankan ketersediaan pasokan infrastruktur di masa depan," ujar pihak Samsung dalam laporan tersebut.
Strategi ini dilakukan agar produsen dapat melakukan ekspansi kapasitas produksi dengan lebih terukur. Dengan adanya visibilitas permintaan multi-tahun, perusahaan tidak perlu khawatir mengenai potensi penurunan minat pasar di kemudian hari.
"Melalui visibilitas permintaan multi-tahun ini, produsen dapat memasang peralatan serta mendongkrak kapasitas produksi tanpa mengkhawatirkan penurunan permintaan pasar," kata pihak Samsung.
Samsung juga memutuskan untuk memprioritaskan kemitraan dengan pelanggan yang siap melakukan kerja sama jangka panjang. Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk menjaga stabilitas perusahaan di tengah fluktuasi siklus industri memori yang sering terjadi.
"Tingginya permintaan memori memberikan ruang bagi Samsung untuk memprioritaskan pelanggan yang siap mengikat kerja sama jangka panjang, sehingga perusahaan dapat menghindari fluktuasi siklus naik-turun," jelas pihak Samsung.
Dampak dari kelangkaan ini mulai dirasakan langsung oleh konsumen melalui kenaikan harga perangkat elektronik. Samsung kini mulai membebankan biaya produksi yang lebih tinggi kepada pengguna ponsel pintar dan tablet guna menyeimbangkan neraca keuangan.