• TRENMEDIA.BIZ.ID -

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding, melakukan peninjauan langsung terhadap implementasi pelayanan karantina ekspor komoditas perikanan di Sulawesi Selatan. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap produk yang diekspor telah memenuhi standar internasional yang ketat.

Peninjauan difokuskan pada salah satu fasilitas budidaya udang di Makassar, di mana Bapak Karding mengamati seluruh tahapan proses produksi. Mulai dari tahapan breaded process hingga proses pengemasan, semua aspek diamati demi menjamin keamanan dan mutu produk.

Tujuan utama dari tinjauan ini adalah untuk memastikan pemenuhan standar sanitasi, keamanan pangan, dan efektivitas sistem sertifikasi ekspor. Hal ini merupakan syarat mutlak agar produk perikanan Indonesia dapat diterima di pasar global yang sangat kompetitif.

Dalam kunjungannya, Bapak Karding menyampaikan apresiasinya terhadap standar operasional perusahaan tersebut. Ia menilai bahwa fasilitas tersebut telah setara dengan kriteria ekspor dunia, membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam industri udang global jika tata kelola terus ditingkatkan.

Fasilitas budidaya yang ditinjau mencatat tingkat kelangsungan hidup benur yang sangat baik, mencapai lebih dari 95 persen. Yang membanggakan, pencapaian ini diraih tanpa penggunaan bahan kimia atau obat-obatan berbahaya, menunjukkan praktik budidaya yang berkelanjutan.

Area produksi di fasilitas tersebut juga menerapkan protokol masuk yang sangat ketat. Hal ini dilakukan demi menjaga sterilitas lingkungan budidaya dan mencegah potensi kontaminasi yang dapat membahayakan kualitas produk akhir.

"Tugas kami memastikan semua komoditas perikanan keluar masuk, baik antar pulau maupun antar negara, harus sehat, mutu dan kualitasnya terjaga," ujar Abdul Kadir Karding.

Beliau juga menekankan pentingnya konsistensi dalam penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) serta adaptasi terhadap pembaruan teknologi. Disiplin pelaku usaha dalam menjaga standar dinilai mampu menekan angka kegagalan budidaya.