TRENMEDIA.BIZ.ID - Dunia kerja global saat ini tengah menghadapi tantangan serius akibat kesenjangan antargenerasi yang semakin melebar. Kondisi ini memicu gesekan di lingkungan kantor yang berujung pada keputusan sejumlah pekerja senior untuk mengambil masa pensiun lebih awal.

Dikutip dari HaiBunda, sebuah riset dari Clari + Salesloft bersama Workplace Intelligence terhadap 2.000 tenaga penjualan dan pimpinan tim di Amerika Serikat mengungkapkan fakta mengejutkan. Sebanyak 19 persen pekerja dari kelompok Baby Boomer memilih untuk berhenti bekerja lebih cepat karena merasa kelelahan menghadapi interaksi dengan rekan kerja dari Generasi Z.

Ketegangan ini tidak hanya datang dari satu pihak, karena kelompok muda pun menunjukkan sikap serupa. Sekitar 28 persen pekerja Gen Z dilaporkan secara aktif mencari posisi atau lingkungan pekerjaan yang meminimalkan kontak langsung dengan rekan kerja yang lebih senior.

Perselisihan ini memberikan dampak finansial yang cukup signifikan bagi perusahaan di seluruh dunia. Diperkirakan, gesekan antargenerasi ini memicu kerugian produktivitas yang mencapai US$56 miliar setiap tahunnya.

Salah satu pemicu utama dari jurang komunikasi ini adalah perbedaan kecepatan dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau AI. Pekerja muda cenderung lebih gesit memanfaatkan AI untuk efisiensi tugas, sementara pekerja senior memerlukan waktu adaptasi yang lebih lama.

"Saat ini AI bisa menjadi pemecah, bukan pengganda kemampuan. Ada tenaga penjual yang bergerak lebih cepat, menutup lebih banyak transaksi, dan mencapai target dengan bantuan AI. Namun ada juga yang menolak atau hampir tidak menggunakannya," ujar CEO Clari + Salesloft, Steve Cox.

"Kesenjangan inilah yang menciptakan gesekan di dalam tim dan menurunkan kinerja. Jika diterapkan dengan tepat, AI dapat menyelaraskan cara bekerja dan meningkatkan kemampuan seluruh anggota tim, bukan hanya mereka yang lebih dulu mengadopsi," tambah Steve Cox.

Perbedaan preferensi kepemimpinan juga terlihat mencolok dalam survei tersebut. Sebanyak 39 persen Gen Z mengaku lebih nyaman dipimpin oleh sistem AI dibandingkan atasan dari generasi Baby Boomer, sementara 25 persen Baby Boomer lebih memilih berkolaborasi dengan AI daripada berinteraksi dengan rekan kerja Gen Z.

Debat mengenai keseimbangan kehidupan dan kerja atau work-life balance turut memperkeruh suasana. Sebanyak 71 persen Gen Z merasa senior mereka terlalu terpaku pada durasi jam kerja, bahkan 56 persen di antaranya menganggap budaya kerja senior cenderung toksik.