TRENMEDIA.BIZ.ID - Sebuah studi ilmiah terbaru berhasil mengungkap kemampuan unik fosil kayu dalam merekam jejak sejarah geologi bumi hingga ratusan juta tahun ke masa lalu. Penelitian ini dipimpin oleh ahli geologi Dr. Steffen Trümper dari Universitas Münster.

Temuan penting tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports. Dikutip dari Media Indonesia, riset ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana material organik dapat menjadi arsip alam yang sangat berharga.

Objek utama penelitian ini adalah sampel fosil kayu yang ditemukan di kawasan Pegunungan Kyffhäuser, cekungan Saale, Jerman bagian tengah. Fosil tersebut berasal dari era Karbon Akhir saat superbenua Pangaea masih terbentuk sekitar 300 juta tahun silam.

Proses mineralisasi kuarsa menjadi kunci utama yang menjaga keutuhan struktur anatomi kayu kuno tersebut. Senyawa asam silikat meresap ke dalam dinding sel pohon purba saat tertimbun endapan sungai, yang kemudian mengkristal secara bertahap.

"Sangat menakjubkan bahwa sebuah fosil, yang sering kali berukuran tidak lebih besar dari telapak tangan, merangkum sejarah geologi seluruh wilayah selama ratusan juta tahun," ujar Dr. Steffen Trümper.

Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi lima generasi pembentukan kuarsa yang mencatat perubahan suhu, tekanan, serta kedalaman penimbunan fosil. Proses penimbunan tersebut diperkirakan mencapai kedalaman antara 3 hingga 5,5 kilometer di bawah permukaan tanah.

Dalam kondisi tersebut, suhu lingkungan di masa lalu tercatat mencapai angka 160 hingga 240 derajat Celsius. Tim peneliti menggunakan teknik analisis canggih, termasuk penanggalan isotop uranium-timbal dan pemeriksaan inklusi cairan mikro pada kristal kuarsa.

Metode penanggalan isotop tersebut berhasil merekonstruksi tahapan mineralisasi selama 300 juta tahun. Rekaman ini diakui sebagai urutan mineralisasi kayu terpanjang yang pernah terdokumentasikan dalam sejarah ilmu pengetahuan geologi.

"Dokumentasi lima tahap mineralisasi pada kayu fosil baru pertama kali ditemukan, dan temuan ini menjadi sarana baru untuk menelusuri evolusi benua," jelas Dr. Steffen Trümper.