TRENMEDIA.BIZ.ID - Pulau vulkanik yang terus tumbuh di tengah Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau (GAK), kembali menunjukkan denyut aktivitasnya yang kuat pada Senin, 17 Agustus 2026. Fenomena alam yang terjadi di perairan antara Pulau Jawa dan Sumatera ini menarik perhatian para ahli vulkanologi dan masyarakat sekitar.

Selama periode 24 jam yang terpantau ketat, GAK tercatat mengalami lonjakan aktivitas dengan 20 kali letusan. Rentetan erupsi ini menjadi bukti kegelisahan vulkanik yang sedang berlangsung di salah satu gunung api paling dinamis di Indonesia.

Aktivitas vulkanik GAK dimulai sejak dini hari, tepatnya pada pukul 01.30 WIB. Erupsi terus berlanjut sepanjang hari, menandakan pelepasan energi yang berkelanjutan dari dalam perut bumi.

Puncak aktivitas letusan teramati hingga larut malam, dengan letusan terakhir tercatat pada pukul 22.10 WIB. Hal ini menunjukkan bahwa proses geologis di bawah gunung api tersebut masih sangat aktif.

Rangkaian erupsi yang terjadi ini mengindikasikan adanya periode kegelisahan vulkanik yang cukup panjang. Aktivitas ini tidak hanya sporadis, melainkan berlangsung hampir sepanjang hari.

Hal ini menunjukkan bahwa energi yang terus dikeluarkan oleh gunung api aktif ini masih sangat signifikan. Para pengamat vulkanologi terus memantau perkembangan situasi di GAK.

"Fenomena alam ini berlangsung sepanjang hari, menarik perhatian para pengamat gunung berapi," demikian dilaporkan dalam pemberitaan yang tayang pada tanggal tersebut.

Dikutip dari TIMESINDONESIA.MY.ID, aktivitas yang terjadi merupakan gambaran dari dinamika geologi yang kompleks di kawasan tersebut.

GAK sendiri merupakan gunung api yang terbentuk dari letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami pertumbuhan dan perubahan.