TRENMEDIA.BIZ.ID - Percepatan program peremajaan tanaman sawit rakyat menjadi langkah krusial yang dapat mengancam keberlanjutan program hilirisasi kelapa sawit nasional. Kondisi ini disebabkan oleh mayoritas kebun sawit rakyat yang telah memasuki usia tua dan mengalami penurunan produktivitas signifikan.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Studi Sawit IPB University, Budi Mulyanto, yang menekankan pentingnya percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Menurutnya, upaya ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi kelapa sawit di Indonesia.

Budi Mulyanto menjelaskan bahwa banyak perkebunan kelapa sawit rakyat kini telah berusia 25 tahun atau lebih. Kondisi tanaman yang menua ini secara langsung berdampak pada ketersediaan bahan baku untuk industri kelapa sawit nasional.

"Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku bagi industri kelapa sawit nasional," ujar beliau.

Minimnya pasokan bahan baku dapat memberikan dampak negatif terhadap keberhasilan program hilirisasi kelapa sawit. Pengembangan industri hilir, ujar Budi Mulyanto, harus selaras dengan penguatan sektor hulu.

"Percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi langkah krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi, sekaligus mendukung hilirisasi," ujar Budi Mulyanto.

Menurut Budi Mulyanto, hampir 50% luas lahan sawit di Indonesia merupakan sawit rakyat. Mayoritas dari tanaman tersebut sudah tua, sehingga menjadi pertanyaan besar mengenai keberlanjutan program hilirisasi jika tidak segera diremajakan.

"Kalau tidak diremajakan, bagaimana kita bicara program hilirisasi? Produksi itu kan menentukan hilirisasi," tegas beliau.

Untuk mendorong percepatan Program PSR, Budi Mulyanto mengusulkan penggunaan pendekatan afirmatif. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan kemudahan, khususnya terkait kendala administratif dan legalitas lahan bagi para petani rakyat.