TRENMEDIA.BIZ.ID - JAKARTA – Rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) untuk periode Juli 2026 dilaporkan mengalami penurunan. Penetapan ini merupakan bagian dari dinamika pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor global.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi menetapkan ICP Juli 2026 sebesar US$ 81,68 per barel. Angka ini menunjukkan adanya pelemahan dibandingkan dengan harga pada bulan sebelumnya.
Penurunan ICP Juli 2026 ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026. Keputusan ini menjadi landasan pemerintah dalam mengelola komoditas energi strategis ini.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengkonfirmasi penurunan tersebut. Ia menjelaskan bahwa ICP bulan Juni 2026 tercatat di angka US$ 83,45 per barel, sebelum akhirnya menyesuaikan menjadi US$ 81,68 per barel pada Juli 2026.
"Penetapan ICP bulan Juli 2026 sebesar US$ 81,68 per barel mencerminkan dinamika pasar minyak mentah global yang mengalami penyesuaian menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta berangsur pulihnya arus pasokan minyak dunia," ujar Laode Sulaeman di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Laode Sulaeman, pergerakan harga minyak internasional sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor, termasuk tensi geopolitik, ketersediaan pasokan, dan tren permintaan global. Perkembangan tersebut juga mencakup upaya de-eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
"Perkembangan harga minyak internasional dipengaruhi faktor geopolitik, kondisi pasokan, serta perkembangan permintaan global. Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan tersebut adalah de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang diikuti gencatan senjata serta terbukanya ruang diplomasi bilateral dan multilateral," kata Laode Sulaeman.
Kondisi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang dilaporkan membaik turut berkontribusi pada peningkatan kepercayaan pasar. Pemulihan sementara di jalur pelayaran vital ini mendorong peningkatan pasokan minyak dunia.
Berdasarkan data dari Badan Energi Internasional (IEA), pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz telah mendorong kenaikan pasokan minyak dunia hingga 4,1 juta barel per hari pada Juni 2026. Hal ini membuat total pasokan global mencapai 98,8 juta barel per hari.
