TRENMEDIA.BIZ.ID - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI merilis catatan keuangan untuk periode semester pertama tahun 2026. Data tersebut menunjukkan dinamika kinerja perusahaan di tengah tantangan operasional yang cukup kompleks.
Dikutip dari Detik Finance, perusahaan mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp314,03 miliar pada semester I-2026. Capaian ini menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp1,18 triliun.
Selain laba bersih, perusahaan juga mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp842,69 miliar selama paruh pertama tahun ini. Angka tersebut mengalami kontraksi jika disandingkan dengan periode semester I-2025 yang sempat mencapai Rp1,86 triliun.
Di balik penurunan laba tersebut, KAI justru berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 6,6 persen menjadi Rp17,96 triliun. Pertumbuhan ini juga diikuti dengan kenaikan laba bruto sebesar 18,81 persen menjadi Rp6,79 triliun, serta laba usaha yang naik 25,79 persen menjadi Rp4,66 triliun.
Manajemen perusahaan menegaskan bahwa kenaikan omzet menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas operasional. Hal ini mencakup aspek keselamatan perjalanan hingga pemeliharaan prasarana kereta api di seluruh wilayah kerja.
"Pertumbuhan pendapatan menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," ujar Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba.
Dari sisi neraca keuangan, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 mencapai Rp104,79 triliun dengan ekuitas sebesar Rp39,69 triliun. Perusahaan juga berhasil menekan total liabilitas menjadi Rp65,11 triliun, termasuk penurunan utang jangka pendek dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun.
Pemicu utama penurunan laba bersih tersebut berasal dari lonjakan kerugian pada entitas asosiasi dan usaha patungan yang membengkak menjadi Rp3,00 triliun. Salah satu penyumbang beban tersebut adalah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), dengan catatan kerugian mencapai Rp5,13 triliun.
Terkait beban keuangan dari proyek infrastruktur skala besar tersebut, pemerintah menyatakan bahwa langkah pembenahan sedang dilakukan secara bertahap. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi tantangan yang telah ada sebelumnya dengan skala yang cukup masif.