TRENMEDIA.BIZ.ID - Sejumlah perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Silicon Valley kini tengah menempuh langkah kontroversial untuk mengatasi masalah kekurangan data pelatihan. Mereka memborong ribuan buku langka dari berbagai toko buku kuno di seluruh dunia untuk dijadikan bahan pembelajaran mesin, seperti yang dikutip dari Detikcom.
Proses pengumpulan data ini dilakukan dengan cara memotong jilidan buku dan menghancurkan salinan fisiknya setelah dipindai. Metode ini dipilih untuk mempercepat pemrosesan data sekaligus menghindari potensi jeratan hukum terkait hak cipta.
Praktik ini semakin intensif dilakukan sejak Anthropic merekrut mantan eksekutif Google Books, Tom Turvey, pada Februari 2024. Setelah upaya perizinan resmi kepada penerbit dinilai terlalu memakan waktu, mereka memilih membeli buku dalam jumlah besar lalu memotong sampulnya menggunakan mesin hidrolik.
Salah satu penyedia jasa digitalisasi, ISBNdb, bahkan dikabarkan menawarkan akses pemesanan hingga satu juta judul buku sekaligus. Layanan ini memungkinkan perusahaan AI untuk melakukan pemindaian data secara instan dalam skala yang sangat masif.
Pieter de Vries, seorang pemilik toko buku langka di Haarlem, Belanda, mengaku merasa janggal saat menerima surel dari perwakilan perusahaan 2077 AI pada pertengahan Juni 2026. Perusahaan tersebut secara mendadak ingin memborong 3.000 judul koleksinya.
"Sangat aneh rasanya jika tiba-tiba ada pihak yang datang dan meminta untuk membeli ratusan buku koleksi saya sekaligus," ujar Pieter de Vries.
Tindakan pemindaian digital yang diikuti dengan pemusnahan fisik buku saat ini dianggap legal berdasarkan putusan pengadilan di California, Amerika Serikat. Hakim menilai bahwa langkah tersebut dikategorikan sebagai tindakan transformasi format, bukan bentuk penggandaan yang melanggar undang-undang hak cipta.
Namun, keputusan hukum tersebut memicu kritik keras dari kalangan pengamat literasi dan pakar hukum digital. Mereka menilai bahwa praktik ini mengabaikan nilai sejarah dan pelestarian dokumen fisik yang tidak ternilai.
"Saya sebenarnya tidak menentang pengembangan AI dan memahami perlunya mentransfer pengetahuan ke format baru, namun prosesnya tidak boleh dengan cara menghancurkan karya aslinya," kata Marcal Font i Espi, Dosen sastra University of Barcelona.