TRENMEDIA.BIZ.ID - Kondisi di mana anak menyalahkan orang tua atas keadaan hidup mereka sering kali memicu respons emosional yang intens. Situasi ini menuntut kesiapan mental orang tua agar dapat menjaga komunikasi tetap berjalan dengan baik.
Dikutip dari HaiBunda, seorang psikolog anak dan keluarga bernama Jeffrey Bernstein Ph.D. menyoroti pentingnya 60 detik pertama saat menghadapi kemarahan tersebut. Reaksi instan orang tua akan sangat menentukan alur percakapan yang akan terjadi selanjutnya.
"Pada umumnya, orang tua cenderung membeku atau justru memberikan reaksi yang keliru, seperti langsung meminta maaf atau malah membangun benteng pertahanan diri," ujar Jeffrey Bernstein Ph.D.
Menurut sang psikolog, pilihan respons tersebut sering kali tidak memberikan dampak positif. Sebaliknya, hal itu justru sering kali memperkeruh suasana dan gagal menurunkan ketegangan yang sedang terjadi.
"Tidak satu pun dari respons tersebut secara signifikan dapat menurunkan ketegangan atau mengurangi pertengkaran," kata Jeffrey Bernstein Ph.D.
Untuk mengatasi hal ini, orang tua disarankan untuk mengakui perasaan anak sebagai langkah awal yang konstruktif. Kalimat seperti "Kamu terdengar sangat kesakitan dan menderita, ceritakan semuanya ke Bunda/Ayah ya" bisa menjadi pembuka dialog yang baik.
Ramalan Astrologi: Proyeksi Karier dan Asmara Shio Tikus serta Kerbau di Awal Agustus 2026
"Respons seperti ini menunjukkan bahwa orang tua dapat merasakan rasa sakit anak-anaknya tanpa perlu segera memperbaiki atau membantahnya. Banyak anak yang sudah dewasa tidak sedang menguji rasa bersalah orang tuanya, mereka justru sedang menguji apakah orang tuanya dapat tetap hadir," ungkap Jeffrey Bernstein Ph.D.
Selain itu, orang tua dapat menggunakan pernyataan yang memvalidasi emosi anak tanpa harus bersikap defensif. Mengakui bahwa anak sedang marah dapat menciptakan ruang aman bagi mereka untuk berekspresi.
"Aku dengar kamu benar-benar marah padaku," kata Jeffrey Bernstein Ph.D. saat memberikan contoh kalimat yang bisa digunakan orang tua.