- TRENMEDIA.BIZ.ID - Gempa bumi kuat dengan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Ende pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Peristiwa alam ini meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi para penduduk setempat.
Akibat trauma yang mendalam pasca guncangan dahsyat tersebut, sebagian besar warga di Kabupaten Ende dilaporkan memilih untuk tidak kembali ke rumah mereka. Mereka lebih memilih untuk berada di luar ruangan, bahkan saat malam tiba.
Keputusan warga untuk tidur di luar rumah ini merupakan respons langsung terhadap rasa takut dan kekhawatiran yang masih membekas. Guncangan kuat yang mereka rasakan memicu ingatan akan tragedi gempa besar yang pernah melanda daerah tersebut pada tahun 1992.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, mengonfirmasi kondisi tersebut. Beliau menjelaskan bahwa suasana pada malam pasca gempa membuat hampir seluruh warga memilih untuk tetap berada di tempat terbuka.
"Mereka butuh tenda sebenarnya. Tapi kami kewalahan karena kita belum punya tenda," ujar Yosef Benediktus Badeoda. Pernyataan ini menyoroti tantangan logistik yang dihadapi pemerintah daerah dalam memberikan bantuan darurat.
Kekhawatiran akan gempa susulan dan potensi kerusakan lebih lanjut menjadi alasan utama di balik keputusan warga untuk tidak memasuki rumah mereka. Pengalaman traumatis ini membutuhkan penanganan yang komprehensif.
Pihak pemerintah daerah tengah berupaya mencari solusi untuk menyediakan tempat berlindung sementara bagi warga yang terdampak. Kebutuhan akan tenda dan fasilitas dasar lainnya sangat mendesak.
Situasi ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan bencana dan dukungan psikososial bagi masyarakat yang selamat dari bencana alam. Membangun kembali rasa aman menjadi prioritas utama pasca kejadian ini.
Dikutip dari TIMESINDONESIA.MY.ID, gempa M7,7 yang mengguncang Ende meninggalkan jejak trauma mendalam bagi warganya.
