TRENMEDIA.BIZ.ID - Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong secara resmi menetapkan proyek investasi Fun Coffee GCM sebagai produk yang mencurigakan. Langkah tegas ini diambil pada 13 Juli 2026 setelah platform tersebut terindikasi membawa risiko kerugian total bagi para pemodal.
Dikutip dari situs berita ekonomi, operasional platform ini menjadi sorotan karena telah memicu kerugian kolektif yang nilainya melampaui HK$1 miliar. Angka fantastis tersebut mencerminkan besarnya dampak finansial yang dialami oleh para peserta investasi.
Skema investasi ini mulai menjangkau pasar Hong Kong sejak akhir tahun lalu dengan menawarkan imbal hasil yang sangat menggiurkan. Para calon investor dijanjikan keuntungan tahunan yang mencapai angka 222 persen melalui sistem yang mereka tawarkan.
Cara kerja platform ini mengharuskan peserta untuk mengunduh aplikasi khusus dan menyelesaikan serangkaian tugas yang ditentukan. Selain itu, mereka diminta menyetorkan dana dalam bentuk aset digital dengan sistem perekrutan yang sebagian besar mengandalkan rujukan dari kerabat.
"Operasional platform tersebut telah memicu kerugian hingga melebihi HK$1 miliar," tegas otoritas pengawas keuangan dalam pernyataan resminya terkait penetapan status mencurigakan tersebut.
Masalah mulai muncul ketika layanan penarikan dana dihentikan secara sepihak oleh pihak pengelola sejak akhir bulan lalu. Selain itu, akses para pengguna ke akun mereka masing-masing juga dilaporkan telah diblokir secara tiba-tiba.
"Kelompok korban yang kini beranggotakan sekitar 4.000 orang mencatat total kerugian yang terkumpul telah menembus angka HK$1 miliar atau setara 127 juta dolar AS," ujar keterangan resmi yang menjelaskan kondisi terkini para investor.
Menanggapi situasi ini, Kepolisian Hong Kong telah menerima sedikitnya 115 laporan kasus dari para korban. Penanganan perkara tersebut kini telah dialihkan kepada Biro Kejahatan Komersial untuk dilakukan penyelidikan lebih mendalam.
Selain beroperasi di wilayah Hong Kong, Fun Coffee juga terdeteksi aktif menjaring investor di Korea Selatan. Mereka menggunakan situs web berbahasa Korea serta berbagai akun media sosial untuk memperluas jangkauan operasionalnya.