TRENMEDIA.BIZ.ID - Dikutip dari investortrust.id, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat. Kelapa sawit diperkirakan akan menjadi komoditas utama yang menyumbang hingga 60% dari total kebutuhan minyak nabati global pada tahun 2050.
Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menyatakan bahwa permintaan minyak nabati dunia tumbuh signifikan. Hal ini didorong oleh lonjakan jumlah penduduk, kenaikan pendapatan masyarakat, serta kemajuan industrialisasi di berbagai negara.
"Kebutuhan minyak nabati dunia terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk, naiknya pendapatan, dan perkembangan industrialisasi global," ujar Tungkot Sipayung.
Selain untuk sektor pangan, minyak nabati kini semakin krusial sebagai bahan baku biomaterial dan substitusi petrokimia. Komoditas ini juga menjadi sumber energi alternatif yang sangat dibutuhkan untuk menggantikan penggunaan energi fosil di masa depan.
Tungkot Sipayung menjelaskan bahwa pada tahun 2050, populasi dunia diprediksi mencapai 10 miliar jiwa dengan kebutuhan minyak nabati mencapai 300 juta ton. Angka ini menunjukkan kenaikan hingga 1,4 kali lipat dibandingkan tingkat produksi pada tahun 2025 yang berada di angka 215,6 juta ton.
"Semakin bertumbuh penduduk dunia, konsumsi minyak sawit juga meningkat. Menuju tahun 2050, populasi penduduk dunia akan mencapai lebih dari 10 miliar orang maka kebutuhan minyak sawit dunia juga akan semakin besar," ujar Tungkot Sipayung.
Keterbatasan lahan dan produktivitas pada tanaman minyak nabati lain seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari membuat ketergantungan dunia terhadap sawit kian tak terelakkan. Meskipun luas lahan sawit saat ini relatif lebih kecil, efisiensi produksinya jauh melampaui komoditas minyak nabati lainnya.
"Diperkirakan pada tahun 2050 mendatang sekitar 60% kebutuhan minyak nabati dunia akan berasal dari minyak sawit," ungkap Tungkot Sipayung.
Minyak sawit memiliki keunggulan kompetitif karena produktivitasnya yang delapan hingga sepuluh kali lebih tinggi dibanding sumber minyak nabati lainnya. Selain itu, potensi peningkatan produktivitas sawit masih terbuka lebar melalui inovasi teknologi dan perbaikan praktik perkebunan.
