TRENMEDIA.BIZ.ID - Jebolnya tanggul Sungai Batang Guo di kawasan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatra Barat, telah menimbulkan ancaman banjir susulan yang berkelanjutan bagi penduduk setempat. Situasi ini memaksa warga untuk bergulat dengan pilihan sulit.

Masyarakat kini dihadapkan pada dua opsi krusial: mendesak perbaikan infrastruktur sungai yang memadai atau menerima tawaran relokasi demi menjamin keselamatan mereka dari bencana serupa.

Sejak insiden jebolnya tanggul dan aliran sungai tersebut terjadi pada November 2025, pemukiman warga di Lapau Munggu telah dilanda banjir sebanyak tiga kali.

Namun, banjir yang menghantam kawasan tersebut pada Senin, 3 Agustus 2026, tercatat sebagai peristiwa terbesar dan paling merusak sepanjang sejarah wilayah itu.

Memasuki hari keempat pasca-bencana, tercatat puluhan kepala keluarga masih terpaksa mengungsi dan bertahan di posko-posko pengungsian yang telah disediakan.

"Kami terus dihantui ketakutan akan banjir susulan, keselamatan anak-anak menjadi prioritas utama kami," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan keresahannya.

Kondisi ini menimbulkan dilema mendalam, di mana alternatif perbaikan infrastruktur sungai yang dinilai memakan waktu dan biaya besar berbenturan dengan kebutuhan mendesak akan tempat tinggal yang aman.

Pemerintah daerah dilaporkan tengah mengkaji opsi terbaik untuk penanganan jangka panjang, termasuk potensi relokasi bagi warga yang terdampak parah dan berada di zona merah banjir.

Proses pengambilan keputusan ini diharapkan dapat segera menemui titik terang demi memberikan kepastian dan ketenangan bagi masyarakat Kuranji yang telah lama hidup dalam bayang-bayang ancaman banjir.