TRENMEDIA.BIZ.ID - Dikutip dari Medcom, strategi rantai pasokan komponen Apple untuk lini iPhone masa depan dikabarkan akan mengalami perubahan signifikan. Porsi penggunaan modem dari Qualcomm pada seri iPhone 18 Pro diperkirakan akan menyusut tajam dibandingkan dengan proyeksi awal.
Pergeseran ini terungkap setelah Qualcomm merilis laporan kinerja keuangan untuk kuartal fiskal ketiga tahun 2026. Data tersebut menunjukkan adanya tren penurunan kontribusi komponen mereka pada perangkat ponsel pintar besutan Apple.
Cristiano Amon, selaku Chief Executive Officer Qualcomm, memberikan konfirmasi mengenai prospek pendapatan perusahaan dari kemitraan bisnis dengan Apple. Ia menyebutkan bahwa arus pendapatan tersebut diprediksi akan terkoreksi lebih cepat mulai kuartal mendatang.
"Pendapatan dari transaksi bisnis dengan Apple akan tergerus lebih cepat mulai kuartal berikutnya," ujar Cristiano Amon.
Lebih lanjut, pihak Qualcomm memberikan estimasi bahwa keterlibatan komponen modem mereka pada lini iPhone terbaru nantinya akan berada di bawah angka 20 persen. Hal ini secara langsung memengaruhi spekulasi mengenai penerapan strategi dual-sourcing yang sebelumnya sempat santer dibicarakan untuk seri iPhone 18 Pro.
Sebelumnya, banyak pengamat memprediksi Apple akan membagi penggunaan teknologi modem menjadi dua jenis untuk seri flagship mereka. Wilayah Amerika Serikat dikabarkan akan tetap menggunakan modem Qualcomm Snapdragon X80 untuk mendukung jaringan 5G mmWave, sementara pasar global akan beralih ke modem internal Apple C2.
Penyusutan pasokan hingga di bawah 20 persen tersebut kini memperkuat sinyal bahwa Apple akan memperluas penggunaan modem Apple C2 ke pasar global secara lebih masif. Langkah strategis ini mencerminkan ambisi jangka panjang perusahaan untuk meminimalisir ketergantungan terhadap pemasok modem dari pihak eksternal.
"Tren penurunan transaksi ini lebih dipengaruhi oleh faktor ketersediaan pasokan seiring dengan peningkatan adopsi modem yang dikembangkan secara mandiri oleh Apple," kata Cristiano Amon.
Dampak dari kebijakan ini terlihat pada unit bisnis chipset smartphone Qualcomm yang mencatatkan pendapatan sebesar USD5,09 miliar atau sekitar Rp91,8 triliun pada kuartal terakhir. Capaian tersebut mencatat penurunan sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.