TRENMEDIA.BIZ.ID - Tren simpanan masyarakat pada segmen nasabah kecil di sektor perbankan nasional kini menunjukkan perlambatan. Kondisi ini dipicu oleh berbagai katalis ekonomi, di mana fenomena "makan tabungan" menjadi sorotan utama bagi para pengamat industri keuangan. Dikutip dari Kontan.co.id.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per Juni 2026 mencatat nominal simpanan di bawah Rp 100 juta masih tumbuh 2,1% secara bulanan menjadi Rp 1.166,76 triliun. Secara tahunan, pertumbuhan di segmen ini tercatat mencapai 5,2%.

Meskipun nominal total tumbuh, riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menunjukkan tren penurunan pada rata-rata nominal simpanan per rekening. Pada 2018, rata-rata simpanan di bawah Rp 100 juta mencapai Rp 3,1 juta, namun merosot tajam menjadi Rp 1,7 juta per rekening hingga Mei 2026.

"Terlihat jelas bahwa meskipun total nominal simpanan dalam segmen ini masih tumbuh, nyatanya nilai simpanan secara individu di masyarakat terus berkurang," ujar Winang Budoyo.

"Artinya lebih banyak tabungan yang dipakai dibandingkan yang mereka akumulasikan," ungkap Winang Budoyo saat menghadiri sebuah forum di Jakarta pada Kamis (30/7/2026).

Fenomena ini semakin jelas terlihat saat membandingkan pertumbuhan nominal simpanan dengan jumlah rekening. Dalam setahun terakhir, jumlah rekening di segmen ini melonjak 9,5% menjadi 689,48 juta, yang berarti pertumbuhan nominal lebih didorong oleh penambahan jumlah nasabah daripada peningkatan saldo individu.

Menanggapi kondisi tersebut, pihak perbankan menilai hal ini sebagai cerminan dinamika perilaku masyarakat dalam mengelola likuiditas. Suku bunga yang masih relatif tinggi dan kondisi ekonomi yang menantang memaksa nasabah melakukan penyesuaian keuangan.

"Dalam kondisi seperti ini, wajar apabila sebagian nasabah melakukan penyesuaian alokasi dananya sesuai dengan kebutuhan konsumsi, investasi, maupun pengelolaan keuangan pribadi," kata Destya D. Pradityo.

Destya menambahkan bahwa nasabah saat ini semakin aktif memanfaatkan berbagai produk keuangan sesuai dengan tujuan hidup mereka. Sebagian nasabah tetap menjaga likuiditas di tabungan untuk transaksi harian, sementara lainnya mengalihkan dana ke instrumen investasi seperti deposito.