TRENMEDIA.BIZ.ID - Sektor perbankan di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik sepanjang tahun 2026. Meskipun penyaluran kredit tumbuh pesat, imbal hasil atau yield kredit justru mengalami tekanan penurunan yang cukup signifikan.

Dikutip dari Keuangan, rata-rata yield kredit industri perbankan nasional terus melandai. Kondisi ini dipicu oleh pergeseran portofolio pembiayaan perbankan yang kini lebih banyak menyasar segmen korporasi dengan suku bunga yang lebih rendah.

Berdasarkan data Survei Perbankan Indonesia dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata yield kredit tercatat turun sebesar 0,49 poin persentase secara tahunan menjadi 8,11% per Mei 2026. Padahal, pada periode yang sama, pertumbuhan kredit industri secara nasional mampu mencatatkan angka yang solid, yakni 12,67% secara tahunan.

Tren penurunan ini tidak hanya dirasakan oleh industri secara umum, tetapi juga berdampak pada bank-bank besar. PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan penurunan yield kredit bank only menjadi 6,91% pada kuartal II-2026, yang sebelumnya berada di posisi 7,11% pada kuartal pertama.

Rincian portofolio menunjukkan bahwa pembiayaan korporasi memberikan yield terendah, yakni sebesar 5,94% selama semester I-2026. Sebaliknya, segmen kredit mikro dan payroll justru menjadi kontributor imbal hasil tertinggi mencapai 10,6%, diikuti oleh segmen kredit konsumer di level 7,55%.

Meskipun margin tertekan, ekspansi bisnis tetap berjalan agresif. Hingga Juni 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh sebesar 19,9% secara tahunan dengan fokus utama pada sektor-sektor produktif.

"Kami terus mengarahkan pembiayaan ke sektor-sektor yang memiliki efek ganda terhadap ekonomi nasional," ujar Direktur Commercial Banking Bank Mandiri, Totok Priyambodo.

Menurut pandangan pakar, pergeseran komposisi portofolio menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi margin perbankan saat ini. Bank cenderung lebih memilih menyalurkan kredit investasi dan korporasi karena debitur korporasi memiliki profil risiko yang lebih terukur serta posisi tawar yang lebih kuat.

"Perbankan saat ini lebih banyak menyalurkan kredit investasi dan korporasi yang bunganya lebih rendah daripada segmen ritel," kata Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede.