TRENMEDIA.BIZ.ID - LinkedIn baru saja memperkenalkan mekanisme pelaporan terbaru yang memungkinkan pengguna untuk menandai konten berkualitas rendah dengan label "Seems like AI slop". Langkah ini diambil untuk merespons maraknya unggahan berbasis kecerdasan buatan yang dianggap tidak autentik di platform tersebut.
Pengguna dapat menemukan opsi pelaporan ini dengan mengakses menu tiga titik yang tersedia pada setiap unggahan di linimasa mereka. Dikutip dari Media Indonesia, informasi yang diberikan oleh pengguna nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi sistem untuk menyempurnakan deteksi konten otomatis di masa depan.
Setiap laporan yang masuk akan memicu tindakan dari algoritma LinkedIn untuk meninjau konten tersebut. Jika sebuah unggahan terindikasi sebagai "AI slop", maka jangkauannya dalam rekomendasi linimasa pengguna lain akan dikurangi secara otomatis oleh sistem.
Langkah ini diambil oleh LinkedIn dengan tujuan utama memberikan ruang yang lebih luas bagi interaksi antarmanusia yang nyata dan bermakna. Perusahaan ingin memastikan bahwa jejaring kerja ini tetap menjadi tempat bagi pertukaran ide yang autentik dan personal.
"Istilah 'AI slop' memang tidak memiliki batasan yang baku. Oleh karena itu, partisipasi aktif serta masukan dari publik menjadi tumpuan utama bagi kami dalam memetakan konten yang berkategori buruk," ujar Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan.
Selain menghadirkan tombol pelaporan, LinkedIn juga melakukan perombakan besar pada fitur penulisan otomatis mereka. Fitur "Enhance Your Post" yang sebelumnya berfungsi menyusun ulang draf teks secara penuh kini telah resmi dihapus oleh pihak pengembang.
Kini, pengguna hanya diberikan akses ke alat pemeriksa tata bahasa atau proofreading saja. Pendekatan ini sengaja dirancang untuk menjaga keaslian gaya bahasa serta sudut pandang personal setiap penulis agar tidak terintervensi terlalu dalam oleh kecerdasan buatan.
LinkedIn juga terus meningkatkan sistem moderasi otomatis mereka secara berkelanjutan. Perusahaan mengklaim telah berhasil menggagalkan miliaran aktivitas otomatis serta memblokir ratusan ribu percobaan komentar otomatis setiap harinya dalam beberapa bulan terakhir.
Upaya pengetatan ini dipicu oleh riset dari Pangram Labs yang menunjukkan fenomena penggunaan AI generatif yang masif di jejaring kerja tersebut. Data riset memperkirakan sekitar 41 persen unggahan berformat panjang di LinkedIn diproduksi sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.