TRENMEDIA.BIZ.ID - Google secara resmi mengambil kebijakan untuk membatasi fitur pembuatan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) pada layanan Google Earth. Langkah strategis ini dilakukan sebagai upaya preventif dalam menanggulangi peredaran citra satelit palsu yang berpotensi menyesatkan masyarakat luas.
Dikutip dari Media Indonesia, kebijakan ini diterapkan untuk merespons risiko "halusinasi AI" yang dapat menciptakan detail geografis tidak nyata. Jika tidak dikelola dengan ketat, fitur tersebut dikhawatirkan mampu menghasilkan citra manipulatif yang tampak sangat meyakinkan.
"Fitur ini jika dibiarkan dapat menghasilkan citra manipulatif yang tampak meyakinkan," ujar Fitria Kusumawati dalam pemaparannya mengenai risiko teknologi tersebut.
Keputusan ini diambil mengingat adanya ancaman serius terkait disinformasi geopolitik yang bisa dipicu oleh gambar buatan AI. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai kerusakan data ilmiah akibat munculnya vegetasi atau struktur buatan yang tidak faktual di dalam peta.
Pihak Google menyadari bahwa kepercayaan publik terhadap Google Earth sebagai sumber kebenaran visual sangat krusial. Oleh karena itu, pembatasan ini dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga kredibilitas platform tersebut di mata komunitas global.
"Komunitas keamanan siber dan pemetaan menilai ini sebagai tindakan preventif yang tepat untuk menghindari konsekuensi hukum dan etika dari penyebaran hoaks visual," kata Fitria Kusumawati menanggapi pandangan para ahli.
Bagi pengguna umum, penarikan fitur ini memang berarti hilangnya akses terhadap alat kreativitas instan yang sempat tersedia. Namun, prioritas utama Google saat ini adalah memastikan keamanan data dan akurasi informasi geografis bagi seluruh pengguna.
Hingga saat ini, pihak Google belum merilis pernyataan resmi mengenai detail teknis fitur yang ditarik tersebut. Belum ada kepastian apakah fitur ini akan kembali dibuka di masa depan atau justru dihapus secara permanen setelah sistem moderasi diperketat.
Penggunaan AI dalam citra satelit sebenarnya memiliki banyak manfaat, seperti pembersihan awan otomatis dan efisiensi biaya. Meski demikian, risiko ketidakakuratan faktual dan potensi penyalahgunaan untuk sengketa tanah tetap menjadi perhatian utama perusahaan.