TRENMEDIA.BIZ.ID - Pemerintah Amerika Serikat terus berkomitmen mengalokasikan anggaran hingga USD 2 miliar atau setara puluhan triliun rupiah setiap tahunnya demi memelihara jaringan satelit Global Positioning System (GPS). Langkah ini diambil untuk memastikan layanan navigasi dapat terus diakses secara gratis oleh masyarakat di seluruh dunia, sebagaimana dikutip dari Detik iNET pada Rabu (5/8/2026).
Sistem navigasi ini mengandalkan sedikitnya 24 satelit utama milik Angkatan Luar Angkasa AS yang beroperasi pada ketinggian sekitar 20.000 kilometer di atas permukaan Bumi. Setiap satelit secara konsisten memancarkan data krusial berupa posisi pasti satelit dan stempel waktu pengiriman sinyal ke permukaan Bumi.
Melalui proses kalkulasi trilaterasi, lebih dari 6 miliar perangkat seperti ponsel pintar dan kendaraan dapat menentukan titik lokasi secara presisi. Teknologi yang awalnya dirancang untuk kepentingan militer era Perang Dingin ini kini telah berkembang menjadi infrastruktur publik global yang sangat vital.
Akurasi GPS sipil mengalami peningkatan signifikan setelah Presiden Bill Clinton menghentikan fitur pembatasan akurasi secara permanen pada Mei 2000. Meskipun demikian, pihak militer AS tetap mempertahankan kemampuan teknis untuk membatasi sinyal di zona konflik tertentu tanpa mengganggu pengguna global lainnya.
Peran GPS saat ini tidak sekadar untuk petunjuk arah, melainkan juga menjadi penopang utama sinkronisasi jaringan seluler, transaksi keuangan, hingga jaringan listrik. Menurut studi dari Lembaga Riset RTI, gangguan pada sinyal GPS berpotensi memicu kerugian ekonomi hingga USD 1 miliar per hari di wilayah AS.
"Keberlanjutan pendanaan GPS oleh pemerintah merupakan langkah praktis mengingat satelit komersial milik swasta tidak memiliki skema untuk membebankan biaya pengoperasian secara langsung kepada para pengguna," kata Patricia Crouse dari University of New Haven.
Di tengah ketergantungan dunia pada GPS, sejumlah negara turut mengembangkan sistem navigasi satelit mandiri sebagai alternatif. Beberapa di antaranya adalah Galileo milik Eropa, GLONASS dari Rusia yang unggul di kawasan Arktik, serta BeiDou milik China yang telah beroperasi penuh sejak 2020 dengan fitur komunikasi teks.
"Banyak produsen perangkat masa kini mulai mengadopsi integrasi berbagai sistem navigasi sekaligus sebagai langkah antisipasi untuk mengamankan konektivitas jika terjadi pemblokiran sinyal pada salah satu jaringan," ujar Andy Proctor dari Imperial College London.
Dukungan multi-sistem pada perangkat modern ini diharapkan mampu menjaga stabilitas navigasi dan perekonomian global di masa mendatang. Pemerintah Amerika Serikat sendiri dipastikan bakal terus mempertahankan operasional GPS sebagai elemen kunci keamanan nasional dan sistem penerbangan dunia.