TRENMEDIA.BIZ.ID - Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) resmi mencatatkan angka deflasi sebesar 0,24 persen pada Juli 2026. Capaian ini diketahui lebih signifikan dibandingkan dengan angka deflasi nasional yang tercatat berada di level 0,14 persen.
Dikutip dari Detikcom, fenomena ekonomi ini dipicu oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas utama. Komoditas tersebut meliputi bahan bakar minyak (BBM) tertentu, aneka cabai, bawang merah, hingga emas perhiasan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga komoditas menjadi faktor penentu utama yang menekan inflasi di wilayah tersebut selama bulan Juli.
"Terjadi tarik-menarik harga komoditas. Ada jenis BBM yang mengalami kenaikan, tetapi ada juga yang turun. Dari sisi komposisi penggunaannya, kondisi itu ikut memengaruhi deflasi di Sumsel," ujar Moh Wahyu Yulianto.
Moh Wahyu Yulianto merinci bahwa penurunan harga terjadi pada produk Dexlite yang turun menjadi Rp20.160, Pertamina Dex menjadi Rp21.650, dan Pertamax Turbo menjadi Rp19.750 per liter. Namun, di sisi lain, harga Pertamax tercatat mengalami kenaikan menjadi Rp16.650 per liter.
Selain sektor energi, harga emas perhiasan juga mengalami tren penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Harga logam mulia tersebut terpantau bergerak fluktuatif di kisaran Rp2.601.000 hingga Rp2.670.000.
Di sektor bahan pangan, pasokan yang melimpah dari daerah sentra produksi di Sumsel dan provinsi tetangga membuat harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan tomat terkoreksi turun.
"Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Beras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi karena mengalami kenaikan harga di tingkat petani maupun distributor," kata Moh Wahyu Yulianto.
Terkait pola konsumsi masyarakat, Moh Wahyu Yulianto mencatat adanya peningkatan pengeluaran akibat momentum tahun ajaran baru. Kebutuhan pendidikan seperti seragam, buku tulis, dan biaya sekolah di jenjang TK hingga SD turut memberikan pengaruh pada ekonomi.