TRENMEDIA.BIZ.ID - Pemerintah Indonesia dan China baru saja merampungkan pertemuan kedua Joint Foreign and Defense Ministerial Dialogue (2+2) yang digelar di Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran menteri luar negeri serta menteri pertahanan dari kedua negara guna membahas penguatan kerja sama strategis di berbagai sektor.
Dikutip dari Investortrust.id, delegasi Indonesia diwakili oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dan Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin. Sementara dari pihak China, hadir Menteri Luar Negeri Wang Yi serta Menteri Pertahanan Nasional Dong Jun.
Salah satu fokus utama dalam dialog tersebut adalah kolaborasi konkret dalam pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Kedua negara sepakat untuk menjajaki kemitraan jangka panjang yang berfokus pada kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista).
"Yang kita sudah lakukan adalah kita akan kerja sama di dalam pembangunan pabrik amunisi. Kita akan kerja sama pengembangan misil, roket, dan sebagainya," ujar Sjafrie Sjamsoeddin.
Mengenai teknis pelaksanaan di lapangan, pemerintah memastikan bahwa proyek strategis ini akan melibatkan perusahaan industri pertahanan nasional. Keterlibatan pihak domestik diharapkan dapat meningkatkan transfer teknologi serta kapasitas produksi nasional.
"Dengan Pindad, ya. Pasti Pindad," ujar Sjafrie Sjamsoeddin.
Pihak Kementerian Pertahanan RI menargetkan bahwa fasilitas manufaktur amunisi, roket, dan misil tersebut sudah dapat mulai beroperasi pada tahun 2027 mendatang. Proyek ini akan dilaksanakan melalui mekanisme joint development untuk memastikan efisiensi dan kualitas produk yang dihasilkan.
Terkait isu pengadaan alutsista asing, Menteri Pertahanan RI menegaskan bahwa pertemuan ini tidak membahas rencana pembelian pesawat tempur Chengdu J-10. Fokus pembicaraan tetap pada agenda kerja sama yang telah direncanakan sebelumnya.
"Tidak ada rencana pembelian. Yang kita bicarakan dan yang sudah kita kerjakan sekarang," ujar Sjafrie Sjamsoeddin.
