TRENMEDIA.BIZ.ID - Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA tengah menghadapi tantangan serius menyusul munculnya gelombang penolakan terhadap rencana privatisasi ajang Piala Dunia. Ketegangan ini memicu desakan agar pria asal Swiss tersebut segera mengakhiri masa jabatannya.

Rencana kontroversial yang dimaksud adalah pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE). Badan ini direncanakan menjadi pengelola turnamen-turnamen besar dengan skema pelepasan saham minoritas kepada pihak swasta.

Proyek investasi yang bernilai 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp362 triliun tersebut dianggap sebagai bentuk privatisasi sepak bola. Dikutip dari Detik Sport, rencana ini menuai kritik tajam karena dinilai mencederai prinsip dasar federasi.

Penolakan keras datang dari berbagai konfederasi sepak bola dunia, termasuk UEFA, CONCACAF, dan AFC. Mereka bahkan mengancam akan melakukan boikot jika FIFA tetap bersikeras melanjutkan proposal FFE tersebut.

"Rencana pelepasan saham minoritas FFE kepada pihak swasta membentur tembok kokoh dan menuai penolakan dari sejumlah konfederasi sepak bola," ujar Sari Rahmawati, S.H., M.H.

Upaya penyelamatan posisi kini dilakukan Infantino dengan menjalin komunikasi politik tingkat tinggi. Ia dikabarkan sedang berupaya mencari dukungan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mempertahankan kursinya.

Langkah diplomasi ini melibatkan upaya untuk mengadakan dialog tertutup dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dikutip dari New York Post, upaya ini menjadi strategi utama Infantino untuk mengamankan kelangsungan kepemimpinannya di FIFA.

"Infantino bermaksud memanfaatkan olahraga sepak bola sebagai instrumen soft power bagi Amerika Serikat demi mengamankan kursi pimpinan tertinggi federasi," ujar Sari Rahmawati, S.H., M.H.

Keterlibatan lingkaran dekat Trump dalam proyek FFE menjadi poin krusial dalam situasi ini. Proyek tersebut diketahui melibatkan Thrive Capital, sebuah firma ekuitas milik Josh Kushner, yang merupakan saudara dari menantu Donald Trump.