TRENMEDIA.BIZ.ID - Nilai tukar rupiah mencatatkan tren penurunan performa sepanjang pekan ini akibat meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan moneter internasional yang memengaruhi arus modal.

Dikutip dari Investasi, pergerakan mata uang domestik pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026) sempat menguat 0,49% harian ke posisi Rp 18.022 per dolar AS. Namun, secara mingguan, mata uang Garuda terkoreksi 0,32% dari posisi pekan sebelumnya di level Rp 17.963 per dolar AS.

Sementara itu, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan penguatan tipis harian sebesar 0,11% ke level Rp 18.058 per dolar AS. Meskipun demikian, secara mingguan, nilai tukar tetap mencatatkan penurunan sebesar 0,47% dibandingkan posisi pekan lalu di angka Rp 17.973 per dolar AS.

"Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar," ujar Ibrahim Assuaibi.

Analis Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama kecemasan investor. Peluncuran rudal balistik oleh Iran ke arah pasukan AS memperbarui kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keamanan kawasan tersebut.

Terkait kebijakan moneter, Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada rentang 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini diwarnai perbedaan pendapat internal, di mana tiga anggota FOMC menginginkan kenaikan 25 basis poin guna menekan laju inflasi.

"Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral," ujar Ibrahim Assuaibi.

Lebih lanjut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang nasional pada pekan mendatang diperkirakan akan berada dalam rentang Rp 17.920 hingga Rp 18.300 per dolar AS. Proyeksi ini mempertimbangkan berbagai dinamika domestik, termasuk suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia.

"Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi diharapkan dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah sehingga volatilitas tetap terkendali," ujar Muhammad Amru Syifa.