TRENMEDIA.BIZ.ID - Kecerdasan buatan (AI) digadang-gadang sebagai penggerak utama efisiensi kerja di masa depan. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa manfaat teknologi ini bagi produktivitas perusahaan belum dirasakan secara signifikan.
Dikutip dari Finance Yahoo, sebuah studi yang dilakukan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) melibatkan sekitar 6.000 eksekutif dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas perusahaan belum merasakan perubahan besar dalam kinerja mereka.
Secara teknis, dua pertiga dari responden mengaku sudah mulai menerapkan AI dalam alur kerja mereka. Meski demikian, rata-rata durasi penggunaan teknologi tersebut masih sangat terbatas, yakni hanya berkisar 1,5 jam per minggu.
Transformasi Gemini Spark: Asisten AI Google Kini Mampu Menjalankan Tugas Otomatis di Browser
Terdapat pula fakta bahwa sekitar 25 persen eksekutif perusahaan mengaku belum pernah memanfaatkan AI sama sekali dalam aktivitas pekerjaan sehari-hari. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam adopsi teknologi di level manajerial.
Hampir 90 persen perusahaan yang disurvei menyatakan bahwa AI belum memberikan pengaruh berarti terhadap tingkat produktivitas maupun jumlah tenaga kerja selama tiga tahun terakhir. Kondisi ini mencerminkan tantangan besar dalam mengintegrasikan AI ke dalam struktur bisnis yang sudah ada.
"AI memang telah hadir di banyak sektor, tetapi dampaknya belum terlihat pada data ekonomi, termasuk produktivitas, lapangan kerja, dan inflasi," ujar Torsten Slok, Kepala Ekonom Apollo.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan Paradoks Solow yang populer pada akhir 1980-an. Saat itu, komputer diprediksi akan merevolusi efisiensi, namun dampaknya tidak langsung terlihat dalam statistik produktivitas ekonomi global.
"Era komputer bisa dilihat di mana-mana, kecuali dalam statistik produktivitas," ujar Robert Solow, seperti yang dikutip dari Finance Yahoo terkait refleksi sejarah teknologi.
Di sisi lain, riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 2023 menemukan bahwa AI mampu meningkatkan performa individu hingga 40 persen. Sayangnya, peningkatan di level personal ini belum bertransformasi menjadi lonjakan produktivitas perusahaan secara kolektif.