TRENMEDIA.BIZ.ID - Laju harga saham emiten pendatang baru PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami koreksi tajam hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) pada perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia, Selasa (4/8/2026). Dikutip dari Bisnis, harga saham emiten ini merosot sebesar 14,78 persen menuju level Rp865 per lembar.

Penurunan harga tersebut terjadi setelah saham perseroan sempat mencatatkan penguatan cukup signifikan selama sepekan terakhir. Tren positif sebelumnya didorong oleh tuntasnya aksi korporasi berupa akuisisi 51 persen saham BACH oleh PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), yang merupakan entitas dari Grup Djarum pada pertengahan Juli 2026.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume transaksi saham perseroan tercatat mencapai 153,54 juta lembar saham dengan frekuensi sebanyak 18.159 kali. Nilai keseluruhan transaksi tersebut menembus Rp151,31 miliar, disertai dengan antrean jual di harga batas bawah yang mencapai 729.286 lot.

Sisi operasional perseroan sejatinya ditopang oleh bidang penunjang infrastruktur telekomunikasi yang dinilai prospektif. Saat ini, perseroan menangani pemeliharaan pada sekitar 41.000 titik menara telekomunikasi serta menyediakan pasokan generator set (genset) di berbagai wilayah Indonesia.

Sektor pendukung infrastruktur telekomunikasi tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka menengah. Hal ini sejalan dengan peningkatan konsumsi data masyarakat, percepatan transformasi digital, serta ekspansi jaringan 5G dan layanan komputasi awan.

"Kebutuhan untuk menara dan serat optik masih sangat tinggi dalam tiga hingga lima tahun ke depan seiring meningkatnya permintaan dari segmen konsumen maupun korporasi," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli.

"Penyediaan sistem daya cadangan sangat strategis karena menjadi penentu utama keandalan serta keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital," ujar Dipo Satria Ramli.

"Tanpa adanya keandalan dari jaringan internet dan sistem telekomunikasi, fondasi ekonomi digital tidak akan bisa terbangun," tambah Dipo Satria Ramli.

"Prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur pemancar terletak pada ketersediaan sistem daya dan tingkat keandalannya saat penentuan lokasi pemasangan," kata Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Ian Yosef M. Edward.